i

Terbaru dari

News
45 Meja Belajar Untuk Hutasalem

45 Meja Belajar Untuk Hutasalem

“Kursi dan meja kami sedikit. Tak cukup kalau seluruh murid masuk. Kadang satu meja untuk 3-4 anak. Pasti sempit. Apalagi saat menulis. Sering ribut. Jadi kami sering belajar di lantai. Pakai tikar. Tapi anak-anak tetap senang,” terang Hendri kepada Ulil Albab.

Rampung, Hidupkan Syi’ar Ramadhan di Kampung

Rampung, Hidupkan Syi’ar Ramadhan di Kampung

Ke 11 relawan terdiri dari mahasiswa penerima beasiswa Ulil Albab serta para anak muda aktifitas dakwah yang tertarik ikut serta. Di lokasi masing-masing, kesemua relawan akan bertugas menjadi imam shalat 5 waktu dan tarawih, memberi ceramah rutin, dan menjadi khatib Jum’at.

Anak Guru SD Kuliah di Saudi

Anak Guru SD Kuliah di Saudi

Di Ulil Albab, Fadlan sempat menjadi penerima beasiswa Be A Huffaz selama 3 semester. Beasiswa ini dikhususkan bagi mahasiswa dari jurusan non keislaman dan punya keinginan kuat menghafal Qur’an.

Relawan IOS Berbuka Di Pinggir Jalan

Relawan IOS Berbuka Di Pinggir Jalan

IOS dibagikan kepada pengguna jalan di Kota Medan dan sekitarnya. Kegiatan yang sudah berlangsung hampir 10 tahun ini, ditargetkan akan menyasar 6000 penerima manfaat. Akan disebar di 7 titik rawan macet Kota Medan dan Deli Serdang.

Tadarus Plus Madrasah Jandi Meriah

Tadarus Plus Madrasah Jandi Meriah

Menjelang Ramadhan madrasah akan tutup. Aktifitas anak-anak dialihkan ke masjid desa. Kegiatannya, setiap hari, setelah ashar hingga menjelang berbuka berlangsung tadarusan Qur’an. Para guru berharap, dengan adanya buku itu, akan ada tadarus plus. Plus-nya adalah pada sesi bercerita dari murid-murid.

Supiatun, Pejuang Pendidikan Karo (4)

Supiatun, Pejuang Pendidikan Karo (4)

“Harapan saya ke depan, anak saya yang baru buka kelas mengaji juga dapat dukungan dari Ulil Albab. Sama seperti kami berlima di Nurul Iman ini, yang dibantu tiap bulan 500 ribu per orang,” cetus Supiatun.

Biaya Belajar Tinggi Siswa Di Hutasalem

Biaya Belajar Tinggi Siswa Di Hutasalem

“Anak-anak yang tidak memiliki gawai, menyambangi rumah temannya yang memiliki gawai. Sementara yang memiliki gawai harus bekerja membantu di ladang/kebun agar bisa beli paket internet untuk belajar,” terang Hendri, yang sudah bertahun-tahun membina kaum muslimin setempat.

Supiatun, Perempuan Tangguh Tanah Karo (3)

Supiatun, Perempuan Tangguh Tanah Karo (3)

“Ada murid yang sangat lamban belajar. Kami kasih hadiah kerajinan, menjadi hadir setiap hari. Sekarang, setiap bulan dia mengecek, sudah berapa absennya. Khawatir gak dapat hadiah lagi bulan depannya,” ujar Supiatun sambil tertawa.

Supiatun, Pejuang Pendidikan Karo (2)

Supiatun, Pejuang Pendidikan Karo (2)

Saat Ulil Albab berkunjung, bangunan berdinding papan itu memiliki 2 kelas, yang menampung hampir 100 murid. Sebenarnya, belum layak disebut kelas, karena tidak memiliki meja dan kursi. Sering, murid belajar sambil tiduran di lantai semen. Atapnya juga banyak yang bocor.