Tidak ada jalan mudah mengejar cita-cita. Demikian yang dirasakan Muhammad Fadlan Gajah, alumni penerima beasiswa Ulil Albab. Saat ini Fadlan sedang kuliah di King Abdul Aziz University (KAAU), Jeddah, Arab Saudi. Saat masih kuliah semester 6 jurusan Sastra Arab USU Medan, lelaki asal Kabupaten Batubara Sumatera Utara ini memberanikan diri mendaftar ke KAAU.

Satu tahun Fadlan menunggu jawaban. Penantian yang panjang membuat perasaannya berkecamuk. Terkadang timbul rasa pesimis, lamarannya tidak diterima. Apalagi, sebenarnya orangtuanya tidak menyetujui rencana itu.

Ibunya yang perawat di Puskesmas Batubara, bingung sekaligus khawatir memikirkan biaya kuliah di luar negeri yang pastinya tidak murah. Fadlan meyakinkan orangtuanya, bahwa negeri yang ditujunya ini negeri yang dijamin Allah rahmatNya. Lagi pun ada beasiswa. Pastinya tidak akan menyusahkan orangtua.

Anak dari ayah yang guru SD ini tak ingin berubah niat. Keinginannya kuat untuk berangkat. Terbayang di pikirannya, apabila lulus, ia bisa sekalian umroh dan haji gratis.

Sambil menunggu jawaban dari Saudi, Fadlan terus mengasah kemampuan bahasa Arab dan Inggris. Di Medan ia kursus bahasa Arab di tiga tempat. Selain itu Fadlan mengajar di salah satu rumah tahfiz dan madrasah tsanawiyah.

Alhamdulillah, saat pengumuman KAAU, Fadlan diterima. Ia sangat bersyukur. Apalagi, kuliah di Saudi full beasiswa. Belum lagi, setiap bulan ia mendapatkan uang saku sejumlah 840 Riyal Saudi, atau setara 3 juta rupiah. Tempat tinggal tersedia. Tiket pulang pergi setahun sekali untuk mudik juga disediakan.

Satu tahun di Saudi, Fadlan merasakan banyak kemudahan. Pengalamannya, orang Saudi senang dengan orang Indonesia. Apalagi jamaah umroh asal Indonesia cukup ramai disana. Apalagi pas musim haji. “Ditambah lagi orang Indonesia suka belanja,” ujarnya.

Ia bercerita, bahwa orang Saudi juga sangat dermawan. “Dosen saya sering kasi hadiah. Sering juga saya dapat makanan gratis dari Al Baik,” tambahnya. Al Baik adalah restoran cepat saji terkenal di Saudi.

Di Ulil Albab, Fadlan sempat menjadi penerima beasiswa Be A Huffaz selama 3 semester. Beasiswa ini dikhususkan bagi mahasiswa dari jurusan non keislaman dan punya keinginan kuat menghafal Qur’an.

Pengalaman selama mendapat beasiswa Ulil Albab bagi Fadlan sangat berharga. “Mentoring dan pertemuan rutin membuat hafalan saya bertambah. Saya jadi tahu bacaan yang benar dan salah,” akunya.

Selesai kuliah nanti, Fadlan punya impian. Suatu saat ia ingin jadi pengajar. Ia juga berhasrat punya yayasan khusus bagi penghafal Qur’an dan pecinta bahasa Arab ■ Danil Junaidy Daulay

Share this: