Selain rutinitas penanganan pasien yang berkunjung, Klinik Sahabat Ulil Albab juga menjadwalkan untuk menyapa masyarakat dalam rangka menyampaikan berbagai penyuluhan dan ceramah kesehatan.

Jadi, selain pendekatan curatif (pengobatan), pendekatan preventif (pencegahan) juga dilakukan klinik, guna membuka kesadaran dan pemahaman terkait isu-isu kesehatan yang terjadi di masyarakat. Harapannya, ketika kebiasaan atau gaya hidup yang dijalani sudah baik, maka biaya-biaya kesehatan yang tidak perlu, dapat ditekan pengeluarannya. Salah satunya adalah terkait penyakit jantung.

Apalagi, dalam beberapa tahun belakangan, penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular), menjadi salah satu masalah kesehatan utama di negara maju maupun berkembang. Data WHO tahun 2012, dari seluruh kematian akibat kardiovaskular, 7,4 juta (42,3%) di antaranya disebabkan oleh penyakit jantung koroner (PJK) dan 6,7 juta (38,3%) disebabkan oleh stroke.

Beberapa faktor terkait pola hidup menjadi pemicu munculnya penyakit ini, antara lain kebiasaan merokok, kelebihan berat badan, dan tekanan darah tinggi. Oleh karena itu, kementrian kesehatan dalam upaya pencegahan dan pengedalian penyakit jantung dan pembuluh darah, diantaranya mensosialisasikan perilaku CERDIK (Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin beraktifitas fisik, Diet yang sehat dan seimbang, Istirahat yang cukup, dan Kelola Stres).

Mengingat tingginya angka kematian serangan jantung di Indonesia, dan kurangnya pengetahuan tentang itu, Klinik Sahabat Ulil Albab mencoba menghadirkan Program “Klinik Sahabat Menyapa”.

Kegiatan berlangsung di Masjid Al-Muhtadun, Medan Selayang, pada Jum’at, 26 April 2019, dengan tema “Cerdas Mengahadapi Serangan Jantung”. Penyuluhan yang dibawakan dr. T.M Reza Syahputra itu, dihadiri 60 peserta (perwiritan ibu-ibu) ini, bertujuan memberikan pendidikan kesehatan, tentang penanganan pertama saat terjadi serangan jantung pada orang lain ataupun diri sendiri.

Sebelum dimulai, relawan dan tim medis mengadakan pre test, guna mengetahui tingkat pengetahuan yang hadir, tentang serangan jantung. Hasilnya, hanya 5% yang mengetahuinya. “Kami memang belum paham serangan jantung itu apa dokter,” celetuk Rohani, salah satu peserta.

Peserta penyuluhan sangat antusias dengan materi yang disampaikan. Beberapa dialog dan pertanyaan pun ikut meramaikan penyampaian  materi, yang berlangsung di sore hari itu.

“Semoga program ini bisa membantu warga dalam mengenal, mengantisipasi, dan mengetahui penanganan awal serangan jantung,” harap Debi Aresty, manager Klinik Sahabat Ulil Albab ■

Share this: