Bakso Mas Broto. Penggemar bakso di sekitaran kampus USU tentu mengenal warung ini. Warung yang buka dari pukul 11 siang hingga 10 malam ini adalah milik Gatot Subroto (53). Setiap hari warung milik laki-laki asli Banyuwangi ini ramai dikunjungi pelanggan, terutama kalangan mahasiswa.

Broto, begitu ia biasa disapa, memulai usaha bakso bersama sang istri, Legiyem (47), sejak tahun 1993. Saat itu mereka masih menggunakan gerobak keliling. Lokasi jualannya di trotoar depan kampus kedokteran USU. Perlahan, usahanya semakin dikenal dan diminati pelanggan.

Seperti roda berputar, terkadang di atas namun adakalanya di bawah, usai merasakan putaran dagang yang sangat baik, di tahun 2003 ia harus merasakan getirnya kehidupan. Usahanya nyaris gulung tikar.

Penertiban PKL di trotoar sepanjang jalan Dr. Mansyur, membuat Broto harus terusir dari tempat biasa ia menjemput rezeki. Namun ia sadar atas kesalahannya, berjualan di trotoar. Ia pun pasrah digusur.

Kehilangan lapak untuk berjualan, membuatnya memutuskan untuk memberanikan diri menyewa sebuah kios kecil yang berada tidak jauh dari lokasi berjualan sebelumnya. Harapannya, usaha itu segera kembali membaik. Seluruh uang simpanan selama ini, habis dipakai untuk modal dan uang sewa kios.

Namun sepertinya ujian belum berakhir. Aneka musibah datang silih berganti. Modal usaha yang makin menipis, disusul kecelakaan yang menimpa ayah dari tiga anak ini, membuat ekonomi keluarganya goyang.

“Waktu itu kami pun sampai harus berpuasa tanpa sahur, biar beban pengeluaran berkurang,” ungkap Legiyem. “Mungkin ini teguran Allah karena kami tak pernah sekalipun mengeluarkan zakat atau sekedar berinfaq sebagai bukti tanda syukur,” sambungnya.

Berbagai kejadian itu perlahan menumbuhkan kesadaran pada Broto dan istri. Mereka mulai sadar dan yakin, bahwa sebesar apapun usaha yang dimiliki, bila Allah berkehendak maka semuanya bisa hilang dalam seketika. Sejak saat itu mereka mulai rutin berinfaq atau berzakat.

Bertahap Broto berupaya membesarkan usahanya. Minimnya modal sempat membuatnya ragu. Beruntung, setelah melewati beberapa proses, tidak berapa lama kemudian ia menjadi mitra usaha yang mendapatkan pinjaman modal dari Ulil Albab. Usahanya pun mulai berangsur pulih. Bahkan, pria yang telah menjadi donatur Ulil Albab sejak tahun 2007 itu, dapat menyewa ruko yang lebih besar, dan berlantai dua.

Takdir Allah, Sabtu, 25 Agustus 2018, keteguhan hati Broto dan keluarga kembali diuji. Hari itu si jago merah melahap lantai 2 ruko sewaannya. Semua habis. Yang tersisa hanya puing sisa kebakaran.

Tak ingin lama larut dalam kesedihan, Broto beserta keluarga dan 4 karyawan, dengan segenap kemampuan, segera berupaya memulihkan usaha. “Meskipun sedang kesusahan, kami berusaha tenang karena yakin semuanya memang kehendak Allah. Dia pasti memberikan jalan keluar,” tandasnya.

IMF, lembaga pembiayaan mikro Ulil Albab, bergerak cepat. Broto akhirnya mendapat bantuan pinjaman guna membenahi atap ruko dan memasang kembali instalasi listrik. “Alhamdulillah, Ulil Albab memberi saya jalan keluar,” tutupnya

Share this: