Hutasalem, sebuah dusun kecil di Humbahas, punya cerita berbeda dari kebanyakan kampung. Dusun ini dikenal sebagai tempat tinggal para penyintas kusta. Julukan “kampung eks kusta” masih melekat hingga sekarang, meski warganya sudah hidup dengan tenang.
Kehidupan di sini sederhana. Sebagian besar warganya bekerja serabutan, sebagian lain menggarap ladang kecil seadanya. Tidak ada yang berlebih, tapi ada satu hal yang membuat mereka kaya: rasa solidaritas.
Sebagian warga mengalami disabilitas akibat kusta. Ada yang kehilangan fungsi tangan atau kaki, ada juga yang tidak bisa bergerak normal lagi. Kondisi ini membuat mereka terbatas dalam bekerja.
Meski begitu, warga saling menguatkan. Yang masih kuat membantu yang lemah, yang punya rezeki ikut menyokong tetangga yang sedang kesusahan.
Kalau ada warga yang terkena musibah, spontan masyarakat Hutasalem bergerak. Mereka terbiasa urunan seikhlasnya. Tidak ada aturan, tidak ada kotak amal permanen, semua berjalan apa adanya. “Kalau ada sedikit uang, kami sisihkan. Kalau tidak ada uang, kami bantu dengan tenaga,” kata seorang warga. Tradisi ini sudah berpuluh tahun diwariskan dari dulu, dan terus terjaga.
Beberapa waktu lalu, datang seorang lelaki tua dari Kabupaten Karo. Ia adalah penyintas kusta yang sudah tidak memiliki keluarga. Tetangganya membawa dia ke Hutasalem, karena tahu di sini ia bisa lebih terjaga. Lelaki itu kini sudah tidak bisa berjalan, tubuhnya lemah, bahkan untuk mandi dan berganti pakaian pun ia butuh bantuan. Warga pun bergantian merawatnya. Semua dilakukan dengan ikhlas.
Seorang warga bercerita, “Saya ikut merawat karena kami sama-sama eks kusta, sama-sama tidak punya keluarga. Ustadz selalu menasihati kami soal ikhlas. Mudah-mudahan ini jadi amal saya di hadapan Allah.”
Di tengah kondisi yang serba terbatas, peran Ustadz Hendri yang sudah lebih lima tahun ditugaskan Ulil Albab untuk mendampingi warga, terasa sangat besar. Melalui pengajian, doa, dan nasihatnya, masyarakat Hutasalem merasa lebih dekat dengan Allah sekaligus lebih kuat menjalani.
Oleh karena itu, meski hidup pas-pasan, warga Hutasalem sangat ramah dan ringan tangan. Mereka sadar, meski tidak punya harta berlimpah, namun dengan rasa kebersamaan, beban berat pun bisa dipikul bersama.
Namun, di balik keteguhan itu, warga tetap punya harapan besar, terutama untuk pendidikan anak-anak. Dengan kondisi ekonomi mereka, biaya sekolah anak-anak sering terhambat. Belum lagi jarak tempuh sekolah masing-masing anak yang jauh, bervariasi antara 7-15 kilometer.
Tanpa kendaraan umum, anak-anak harus menumpang dari satu kendaraan ke kendaraan lain untuk sampai ke jalan besar, lalu melanjutkan perjalanan dengan angkutan umum.
“Kalau ada bantuan pendidikan gratis atau kendaraan sekolah, itu akan sangat membantu anak-anak di sini,” kata seorang tokoh masyarakat ■





0 Comments