Sabariah Dan Rio Ingin Beraktifitas Seperti Biasa

May 5, 2026 | Layanan Sosial Kemanusiaan, News, Ulil Albab

Banjir yang melanda Aceh Tamiang tidak hanya meruntuhkan bangunan, tetapi juga mengubah kehidupan banyak keluarga dalam sekejap. Air datang deras tanpa kompromi, merobohkan rumah, menghanyutkan harta benda, dan menyisakan lumpur tebal di tempat yang sebelumnya penuh tawa dan aktivitas sehari-hari.

Pada Kamis, 12 Februari 2026, Ulil Albab kembali turun ke lokasi terdampak. Kali ini ke Desa Sukajadi, Aceh Tamiang. Di sana, yang terlihat bukan hanya kerusakan fisik, tetapi juga jejak kehilangan yang begitu nyata. Banyak rumah rata diterjang banjir. Jalanan masih dipenuhi sisa lumpur, dan kayu-kayu rumah berserakan tanpa bentuk.

Di antara deretan puing itu, ada kisah Sabariah (67). Rumah dua lantainya dahulu berdiri kokoh, kini tidak menyisakan apa pun. Dinding roboh, perabot hilang, pakaian hanyut, yang tersisa hanya baju yang melekat di badan saat air datang meninggi.

Dengan suara lirih, beliau menceritakan bagaimana banjir merenggut tempat tinggal yang selama ini menjadi ruang aman bagi keluarganya. Kehilangan itu terasa semakin berat karena kini ia harus memulai dari nol. Anaknya telah wafat, dan kini ia tinggal bersama menantu dan cucunya.

Untuk sementara waktu, Sabariah terpaksa menyewa rumah ke arah perkotaan, cukup jauh dari tempat sebelumnya ia tinggal. Cucunya juga harus menempuh perjalanan lebih panjang untuk bersekolah. Beliau tetap berusaha tegar, meski keadaan memaksanya menjalani hari-hari dengan keterbatasan.

Harapannya sederhana. Ia tidak lagi membayangkan rumah bertingkat seperti sebelumnya. Ia hanya ingin membangun kembali tempat tinggal sementara di atas tanah tempat rumahnya dulu berdiri. Rumah yang sederhana pun cukup, asal dapat jadi tempat berteduh dan berkumpul kembali bersama keluarga.

Tim juga bertemu dengan Rio, siswa kelas 4 SD. Ia sedang duduk di antara sisa-sisa rumah yang telah hancur, tangannya mengais-ngais lumpur bekas banjir, seakan mencari sesuatu. Rumahnya telah rata dengan tanah, dan bersama arus banjir, tas serta seragam sekolahnya pun ikut hilang.

Rio ingin memiliki seragam sekolah lagi. Ia tidak ingin terus datang ke sekolah dengan pakaian biasa.

Di balik angka-angka laporan kerusakan dan data korban bencana, ada banyak wajah seperti Sabariah dan Rio. Wajah yang menyimpan harapan dan keinginan untuk dapat segera kembali beraktifitas seperti biasa.

Bencana memang merobohkan bangunan, tetapi tidak memadamkan harapan. Dengan kepedulian dan dukungan bersama, rumah sederhana dapat kembali berdiri, dan seragam sekolah dapat kembali dikenakan.

Karena setiap bantuan yang diberikan bukan hanya memulihkan bangunan dan mengganti pakaian, tetapi mengembalikan rasa aman, martabat, dan harapan akan masa depan yang lebih baik ■

0 Comments