Info > News

Pengelolaan Dan Pemanfaatan Sampah Di Masa Keemasan Abbasiyah

May 5, 2026 | News, Selintas, Sharing, Ulil Albab

“Abu Sa’id melarang pelayannya membuang sampah yang ada di rumah dan menyuruhnya mengumpulkan sampah dari semua rumah kontrakan dan membuang ke tempat sampah miliknya.” Tulis al-Jahidz sastrawan polymath fenomenal asal Basrah abad ke-9 dalam satire humornya yang terkenal: al-Bukhala’ (orang-orang pelit).

“Sesekali ia duduk dan pelayannya membawakan sampah-sampah tersebut lalu ia memilah satu demi satu. Adapun wol, dikumpulkan lalu dijual kepada perajin sarung pelana. Kulit delima dijual kepada pembuat warna kain dan perajin samak kulit. Botol dijual kepada perajin kaca. Gulungan papirus dijual ke pabrik kertas negara. Setelah hanya tanah yang tersisa dan dia ingin membuat bata darinya, untuk dijual maupun untuk kebutuhan sendiri, dia tidak mau repot menimba air, melainkan menyuruh semua orang di rumah untuk ambil wudhu’ di atas tanah itu. Setelah basah, dia mengubahnya menjadi batu bata.”

Meski bergenre humor, anekdot dalam buku al-Bukhala’ dianggap penting oleh sejarawan lantaran memberi insight mengenai kehidupan sehari-hari masyarakat Irak era keemasan Abbasiyah.

Agar humornya berhasil, tulis M. Milwright dalam Rubbish, Recycling, and Repair: Perspectives on the Portable Arts of the Islamic Middle East, deskripsi polah Abu Sa’id -lakon dalam anekdot haruslah mengandung unsur kebenaran.

Masyarakat di mana al-Jahizh hidup memang menemukan cara untuk me-recycle dan me-reuse barang-barang bekas seperti kaca, potongan kain, gerabah, alat tulis, tali, layar kapal, dan sebagainya.

Zaman sekarang pemakaian kembali barang bekas seperti ini disadari bukan saja memperpanjang umur pakai material (prinsip circular economy) tetapi juga membantu mengurangi sampah beserta ekses lingkungan yang ditimbulkannya.

Sejumlah praktek penggunaan kembali barang-barang bekas pada masa sosio-ekonomi dunia didominasi kaum muslimin sering dijumpai dalam karya peneliti. Jonathan Bloom dalam bukunya Paper Before Print menyebutkan penggunaan sampah tekstil untuk pembuatan kertas.

Abdul Lathif al-Baghdadi ulama dan dokter ternama abad ke-13 yang pernah berkiprah di Kairo mencatat beberapa kasus dimana orang-orang  badui bahkan menjual kain bekas pembalut mumi yang diperoleh dari kuburan-kuburan kuno ke pabrik kertas.

Aktivitas-aktivitas tersebut mungkin menjelaskan mengapa hampir tidak ditemukan masalah lingkungan akibat limbah tekstil pada masa itu. Bandingkan misalnya dengan krisis limbah pakaian bekas dunia hari ini. Laman earth.org melansir pada 2023 saja, ada 1,92 juta ton sampah dihasilkan dari pembuangan baju bekas.

Pengumpul barang bekas termotivasi pula dengan nilai ekonomi barang-barang bekas ini. Beberapa jenis material bekas yang bisa didaur ulang menjadi produk berharga harganya bisa sangat mahal.  al-Maqrizi, sejarawan Mesir abad ke-15 banyak melansir hal ini dalam catatannya.

Kiranya nilai kearifan masa lalu layak kembali dianut masyarakat global hari ini demi merawat lingkungan ciptaan Allah Ta’ala dari akibat aktivitas manusia modern ■ Salman

0 Comments