Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan biasa. Ia adalah perjalanan hati, perjalanan misi, dan perjalanan yang menguji keberanian sekaligus keikhlasan.
Pada hari Rabu (15/04), tim Ulil Albab berangkat dari Medan menuju Desa Kutamale, Kecamatan Kuta Buluh, Kabupaten Karo, dalam rangka asesmen lokasi Program Tebar Qurban (PTQ) 1447/2026. Perjalanan memakan waktu hampir hingga enam jam dengan tantangan medan yang tidak ringan.
Memasuki jalur dari Desa Lau Buluh menuju Kutamale, medan yang dilalui benar-benar menguji adrenalin. Jalanan sempit, tanah dengan taburan batu dan kerikil, disertai tanjakan dan turunan tajam. Di beberapa titik, jurang menganga di sisi kiri dan kanan jalan, dengan kedalaman mencapai puluhan meter. Setiap meter perjalanan menuntut kehati-hatian dan doa.
Namun di balik beratnya perjalanan itu, ada satu hal yang membuat kami terdiam: inilah jalan yang setiap hari dilalui oleh warga setempat.
Bagi tim, perjalanan ini terasa ekstrem dan menegangkan. Tapi bagi mereka, ini adalah rutinitas. Jalan inilah yang mereka tempuh untuk mencari nafkah, mengangkut hasil tani, pergi ke pasar, hingga anak-anak menuju sekolah. Bertahun-tahun mereka hidup berdampingan dengan risiko, melewati jurang, menaklukkan tanjakan, dan menghadapi jalan licin saat hujan turun. Kami mungkin hanya merasakannya beberapa jam. Tapi mereka menjalaninya seumur hidup.
Sesampainya di desa, kami disambut realita yang mengetuk hati. Desa ini merupakan wilayah minoritas Muslim, dengan sebagian besar warganya adalah para muallaf. Semangat ke-Islaman mereka terasa hangat, meski dalam keterbatasan. Ibadah qurban pernah ada, namun tidak rutin setiap tahun dan masih bergantung pada supplai dari luar.
Dari sisi ekonomi, masyarakat hidup sederhana. Mayoritas bekerja sebagai petani, baik pemilik lahan maupun buruh tani. Dalam kondisi ini, hanya satu atau dua orang yang mampu berqurban. Sementara yang lain hanya menunggu kiriman daging.
Perjalanan pulang justru menjadi ujian yang lebih berat bagi Ulil Albab. Di medan curam, mobil yang kami tumpangi sempat gagal menanjak dan berjalan mundur, hingga hampir tergelincir ke jurang. Mobil dalam posisi miring, dengan ban belakang hanya beberapa sentimeter dari bibir jurang.
Saat itu hari mulai beranjak maghrib, hujan turun sehingga membuat jalan semakin licin. Tidak ada warga yang melintas. Selama hampir setengah jam, tim berjuang dalam ketegangan.
Dalam kondisi tersebut, salah satu anggota tim harus mendorong mobil dari belakang. Upaya itu tidak mudah. Ban yang berputar di atas batu memuntahkan kerikil hingga melukai tangan dan bibirnya. Alhamdulillah, dengan izin Allah, kendaraan akhirnya berhasil kesulitan itu dan seluruh tim selamat.
Perjalanan ini meninggalkan banyak pelajaran. Tentang arti perjuangan, tentang nikmat keselamatan yang sering terlupa, dan tentang saudara-saudara kita di pelosok yang diam-diam jauh lebih kuat dari yang kita bayangkan.
Mereka tidak hanya bertahan dalam keterbatasan ekonomi, tetapi juga dalam beratnya akses kehidupan. Namun tetap teguh, tetap bersyukur, dan tetap menjaga iman.
Insya Allah melalui PTQ, bukan hanya qurban yang akan dibawa Ulil Albab, tetapi juga kepedulian, kehadiran, dan penguat iman bagi mereka yang bertahan dalam keterbatasan.





0 Comments