Tahun ini, Dusun Hopong dan Panangkolan, Desa Dolok Sanggul, Kecamatan Simangumban, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara menjadi salah satu titik penyebaran Program Tebar Qurban (PTQ) Ulil Albab.

Berangkat dari Medan, tim menempuh perjalanan hampir 12 jam melewati medan yang cukup ekstrem, membuat perjalanan terasa menantang sejak awal.

Keesokan harinya, usai shalat id, proses penyembelihan hewan qurban dimulai. Alhamdulillah, seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan sebelum waktu zuhur, daging qurban telah selesai didistribusikan kepada masyarakat.

Suasana kebersamaan begitu terasa di Hopong. Hampir seluruh warga hadir menyaksikan proses penyembelihan, termasuk anak-anak yang tampak antusias melihat hewan qurban dari dekat. Sesekali terdengar bisikan mereka, “Itu lembu dari Medan!” Kalimat sederhana yang menggambarkan betapa istimewanya momen qurban bagi mereka.

Sebagai dusun yang cukup terpencil, akses komunikasi masih menjadi tantangan. Warga lebih banyak mengandalkan jaringan Wi-Fi karena sinyal seluler hampir tidak tersedia.

Namun keterbatasan itu tidak menghalangi semangat mereka dalam pendidikan. Banyak orang tua berupaya agar anak-anak mereka dapat mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi.

“Biarlah kami dulu yang tidak tahu agama dan tidak bisa kuliah. Mereka jangan,” ujar Pak Maas, warga Hopong.

Perhatian masyarakat terhadap pendidikan agama juga terlihat dari keberadaan sebuah madrasah sederhana tempat anak-anak belajar mengaji, dan ilmu dasar Islam.

Madrasah tersebut digagas oleh Marihat Siagian. Awalnya bangunan berdiri di belakang masjid. Belakangan dipindahkan ke depan masjid di atas tanah wakaf miliknya. Tidak hanya mewakafkan tanah, Marihat juga mendorong keluarganya untuk turut mengabdi.

Selama 12 tahun, putrinya, Dewita Siagian, mengajar anak-anak setempat. Saat sang anak mendapat amanah pekerjaan di tempat lain, pengabdian itu dilanjutkan oleh menantunya yang hingga kini telah mengajar sekitar satu tahun, tanpa menerima gaji.

“Saya tidak punya ilmu yang bisa diajarkan. Tapi saya punya anak yang bisa mengajar, dan saya punya tanah yang bisa diwakafkan agar bermanfaat untuk masyarakat. Saya ingin tetap bermanfaat sebelum Allah memanggil saya,” tegas Marihat.

Di balik semangat menjaga pendidikan agama, warga Hopong masih menghadapi keterbatasan akses terhadap da’i dan pembinaan ke-Islaman. Kehadiran dai biasanya hanya sesekali, melalui program penyuluhan.

Karena itu, kedatangan relawan Ulil Albab mereka sambut dengan hangat. “Kami sangat senang kalau ada orang luar datang dari Medan. Apalagi kalau bisa jadi imam di sini. Sesekali biar kami diimami orang luar yang lebih bagus bacaannya,” harap Maas.

Alhamdulillah, PTQ bukan hanya menghadirkan kebahagiaan melalui daging qurban, tetapi juga menjadi penyambung silaturahmi dan penguat harapan bagi masyarakat di pelosok negeri ■

0 Comments