Udara sejuk dan hamparan perbukitan hijau menyambut setiap orang yang datang ke Desa Mangan Molih, sebuah desa di Kecamatan Tanah Pinem, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Di tengah bentang alam yang asri, masyarakat menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian, sementara nilai-nilai kebersamaan dan adat istiadat tetap terjaga kuat dalam kehidupan sehari-hari.
Meski secara administratif berada di Kabupaten Dairi, Mangan Molih merupakan bagian dari wilayah budaya Karo Baluren yang hingga kini masih mempertahankan warisan leluhur. Sistem kekerabatan Merga Silima dan nilai Rakut Sitelu , tetap menjadi fondasi hubungan sosial masyarakat, membentuk kehidupan yang harmonis dan penuh rasa saling menghormati antarwarga.
Keunikan desa ini juga tercermin dari namanya. Dalam bahasa setempat, mangan berarti makan, sedangkan molih berarti pulang atau kembali. Nama tersebut bukan sekadar penanda wilayah, melainkan mencerminkan filosofi hidup masyarakat yang menjunjung tinggi kebersamaan, kekeluargaan, dan pentingnya memiliki tempat untuk kembali berkumpul bersama orang-orang tercinta.

Nilai-nilai itu terasa dalam keramahan warga yang menyambut setiap tamu layaknya keluarga sendiri. Senyum, sapaan hangat, dan keterbukaan masyarakat menjadi gambaran nyata bagaimana budaya gotong royong dan rasa persaudaraan masih tumbuh kuat di tengah perkembangan zaman.
Kekayaan budaya Mangan Molih juga terlihat dari tradisi kulinernya. Masyarakat masih melestarikan berbagai makanan khas yang diwariskan turun-temurun, seperti cimpa, kuliner tradisional Karo yang terbuat dari bahan-bahan lokal, serta peleng, makanan khas Pakpak yang dikenal luas di kawasan Dairi dan sekitarnya. Kehadiran kedua kuliner tersebut menunjukkan bagaimana beragam identitas budaya hidup berdampingan dan saling melengkapi dalam kehidupan masyarakat.
Semangat kebersamaan itu kembali terlihat saat pelaksanaan Program Tebar Qurban (PTQ) Ulil Albab 1447/2026. Warga bergotong royong membantu seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari persiapan hingga pendistribusian daging qurban.

“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada para pekurban dan tim Ulil Albab yang telah datang ke desa kami. Kami sangat gembira dengan adanya qurban ini. Kami merasa diperhatikan oleh saudara kami yang muslim,” ujar Naman, salah seorang warga Desa Mangan Molih.
Hal senada disampaikan Ustadz Agusnawan Ginting yang mendampingi pelaksanaan PTQ di wilayah tersebut. Menurutnya, qurban tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga menjadi sarana mempererat persaudaraan dan kepedulian antarsesama.
“Qurban mengajarkan kita berbagi sekaligus memperkuat ukhuwah. Alhamdulillah, amanah para pekurban sudah tersampaikan kepada kaum muslimin disini. Semoga di tahun-tahun mendatang PTQ terus berlanjut supaya makin banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya,” tuturnya ■ Syahda





0 Comments