Untuk mencapai dusun ini, perjalanan relawan Ulil Albab, harus melewati jalan pegunungan berkelok dengan tanjakan dan turunan curam. Bahkan di beberapa titik berbatasan langsung dengan jurang. Tujuan mereka ke Dusun Hopong, Desa Dolok Sanggul, Kecamatan Simangumban, sebuah perkampungan di kawasan perbukitan Kabupaten Humbang Hasundutan.
Meski demikian, jalan utama yang telah beraspal membuat akses menuju desa relatif lebih baik dibandingkan wilayah pelosok lainnya. Sementara jalan-jalan setapak masih menjadi penghubung antar rumah warga yang tersebar di berbagai sudut dusun.
Di tengah keterbatasan geografis tersebut, listrik telah menjangkau sebagian besar wilayah itu. Begitu juga kebutuhan air bersih, relatif terpenuhi. Begitupun, beberapa keluarga masih belum memiliki kamar mandi di rumah, sehingga memanfaatkan fasilitas umum di sekitar masjid untuk kebutuhan sehari-hari.
Tantangan lain yang masih dirasakan warga adalah terkait akses telekomunikasi. Jaringan telepon seluler belum tersedia, sehingga masyarakat sulit berkomunikasi dan memperoleh informasi dari luar daerah.

Nilai kekeluargaan serta semangat gotong royong dan kedekatan antarwarga, masih kuat terjaga di kehidupan sosial masyarakat. Budaya marga masih menjadi bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat, dengan marga Siagian sebagai salah satu marga yang cukup dominan di wilayah tersebut.
Harapan akan masa depan yang lebih baik juga tumbuh melalui kehadiran Rumah Baca atau perpustakaan yang didirikan Ulil Albab pada tahun 2025 lalu. Kini rutin dimanfaatkan anak-anak sebagai sarana belajar.
Keberadaannya menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal dunia yang lebih luas melalui literasi dan pendidikan. Di tengah keterbatasan akses informasi, keberadaan Rumah Baca menjadi salah satu ikhtiar masyarakat untuk menumbuhkan semangat belajar dan membuka peluang masa depan yang lebih cerah.
Pada Idul Adha kali ini, Hopong menjadi salah satu lokasi penyaluran Program Tebar Qurban (PTQ) 1447/2026 Ulil Albab. Sejak pagi masyarakat telah berkumpul di Masjid Jami’ Hopong, guna mengikuti proses penyembelihan hingga pendistribusian daging.
Menurut catatan sejarah lokal, masjid tersebut diperkirakan telah berdiri sejak tahun 1816, dan memiliki kaitan dengan penyebaran Islam di Kawasan Tapanuli oleh pasukan Paderi.
“Alhamdulillah, terima kasih kepada seluruh pequrban dan Ulil Albab. Semoga tahun-tahun depan qurban di sini tetap berlanjut. Senang kali kami bisa makan daging tahun ini,” ujar Domu, warga Hopong ■ Maulia





0 Comments