Pria ini berasal dari Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Namanya Ahmad Komaruddin. Awal merantau ke Sumatera, adalah saat ia ditugaskan menjadi da’i di Aceh, pasca gempa yang mengguncang Pidie Jaya pada Desember 2016.

Selesai bertugas di Aceh, Ulil Albab meminangnya untuk ditempatkan sebagai bagian dari program Korps Da’i Pelosok (KDP), yang bertugas di di Sidebuk-debuk, Desa Doulu, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Sebelumnya, pada tahun 2017, pria berusia 28 tahun ini, menikah dengan wanita asal Trenggalek, Jawa Timur. Setelah menikah, Komar pun berdiskusi panjang dengan istrinya, prihal rencana tugas dakwah ke Sumatera Utara. Alhamdulillah istrinya setuju.

Bagi istrinya, memang tidak mudah untuk menyesuaikan diri, dari yang biasanya hidup di daerah pesisir, selanjutnya pindah ke pegunungan. Namun, ketaatan dalam memahami tugas suami sebagai da’i, membuat istrinya cepat beradaptasi. Hari-hari mereka selanjutnya, diisi dengan berbagai aktifitas dakwah di wilayah tempat mereka tinggal, yaitu di Kampoeng Dakwah Sidebuk-debuk.

Lokasi itu didirikan oleh Yayasan Mulia Rahman Insani. Sebuah yayasan yang dibentuk oleh 4 lembaga. Salah satunya Ulil Albab. Tempat, yang juga sering disebut Islamic Centre ini, direncanakan akan menjadi pusat pembinaan da’I, khususnya da’i pelosok. Tempat ini sangat segar dan nyaman. Apalagi dikelilingi oleh pemandangan bukit dan alam pegunungan yang menawan.

Diatas tanah seluas 2 hektar, telah terbangun sebuah masjid, aula, rumah, dan beberapa fasilitas lainnya. Komar dan keluarga menempati salah satu rumah.

Kegiatannya, mengawal pembinaan dakwah masyarakat sekitar. Ada 4 desa yang ditanganinya.  Komar fokus ke anak-anak muda. “Sejak tamat pesantren dulu, saya senang mendekati anak-anak muda. Mereka perlu kawan cerita. Mereka tidak suka terlalu digurui,” ungkap Komar.

Biasanya, dalam satu jam pengajian, da’i murah senyum ini hanya 15 menit menyampaikan ilmunya. Selebihnya ia bercerita pengalaman hidup sejak remaja, masa di pesantren hingga ditempatkan di Aceh. “Saya tidak keluarkan banyak dalil. Lebih baik dikasi pilihan. Misalnya untuk mengajak mereka tidak dekat narkoba, saya cerita pengalaman teman yang over dosis, meninggal dan dipenjara.”

Selepas pengajian tak jarang Komar nongkrong dengan jamaah mudanya di warung kopi. Cerita hikmah dilanjutkan disitu. Disitu juga Komar yang kental logat Jawa-nya belajar bahasa Karo.

“Dimanapun ditempatkan, saya wajib tahu bahasa orang tempatan. Pernah, anak-anak muda itu mengajarkan sebuah kalimat. Saat saya coba pakai kalimat itu di kampung lain, ternyata saya ditegur. Ternyata Itu kalimat tidak sopan,” ujar Komar sambil tertawa, mengenang pengalamannya.

Pernah juga Komar mendampingi anak-anak muda itu ‘touring’ bersepeda motor ke Kabupaten Samosir. “Berdakwah dengan mereka, harus mengerti isi jiwanya. Malam sebelum touring,  selepas isya’ kami berkumpul. Mengadakan pengajian sebentar, istirahat dan shalat lail bersama,” ceritanya.

Istrinya juga aktif berdakwah. Saat ini belasan wanita rutin dibina. “Awalnya hanya 4 orang yang belajar. Sekarang sudah sampai 12,” tutup Komar ■ Danil Junaidy Daulay

Share this: