Dari Beasiswa ke Dampak Sosial: Ketika Ilmu Berbuah Kepedulian

Jan 7, 2026 | Beasiswa, Layanan Pendidikan, News, Ulil Albab

Beasiswa InCare merupakan salah satu program unggulan Ulil Albab yang diperuntukkan bagi mahasiswa berprestasi dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Namun InCare tidak berhenti pada bantuan biaya pendidikan semata. Program ini dirancang untuk melahirkan insan pembelajar yang berdaya, berjiwa pemimpin, dan memiliki kepedulian sosial yang nyata.

Melalui pendampingan berkelanjutan, penerima beasiswa dibekali peningkatan kapasitas keilmuan dan kepemimpinan. Mereka juga diwajibkan berkontribusi langsung dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat, khususnya di bidang pendidikan dan kemanusiaan. Dengan tagline “Berbagi dan Berprestasi”, Beasiswa InCare menanamkan prinsip hidup yang sederhana namun tetap berkualitas, bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti memberi manfaat. Nilai inilah yang menjadi ruh utama Beasiswa InCare: ilmu yang diamalkan, dan kepedulian yang dihidupkan.

Untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan dan kepekaan sosial, para scholarship holders dilibatkan dalam berbagai aktivitas di bawah naungan Akademi Kerelawanan Ulil Albab. Pembinaan ini terintegrasi langsung dengan program-program kerelawanan Ulil Albab, seperti Relawan Program Tebar Qurban, Relawan Event Ramadhan, hingga Aksi Siaga Bencana. Di ruang-ruang pengabdian inilah para penerima beasiswa belajar memimpin, bekerja dalam tim, hadir langsung di tengah masyarakat, membaca persoalan sosial, dan yang paling penting mencari solusi nyata di tengah masyarakat.

Alumni yang Terus Menebar Manfaat

Kini, sejumlah alumni penerima Beasiswa Ulil Albab telah berkiprah di berbagai sektor, baik di dalam maupun luar negeri. Salah satunya adalah Devi, S.Pd., alumni Beasiswa angkatan 2018. Saat ini, Devi berprofesi sebagai guru yang mengajar Al-Qur’an di salah satu sekolah Islam di Kota Medan. Pengalaman dan pembinaan yang ia peroleh selama menjadi scholarship holder Ulil Albab membentuk cara pandangnya dalam melihat persoalan di sekitarnya. Baginya, masalah bukan untuk dikeluhkan, tetapi dicari jalan keluarnya.

Salman, Manajer Pendidikan Ulil Albab sekaligus muallim yang membimbing para peserta Beasiswa di Ulil Albab, mengenang Devi sebagai salah satu peserta yang menonjol sejak awal. Menurutnya, Devi dikenal sangat aktif, memiliki kemampuan speaking bahasa Inggris yang baik, serta mandiri.

“Saat wawancara, sudah kelihatan minatnya besar untuk berubah menjadi lebih baik dan aktif. Dia tipe yang suka menggerakkan orang-orang. Setiap ada proyek atau kegiatan, dia sangat aktif dan sigap menghimpun dana. Kecakapannya dalam berkomunikasi yang persuasif membuat proses penggalangan donasi berjalan cepat dan efektif, serta daya juangnya pun sangat baik,” tutur Salman. Ia juga menambahkan bahwa Devi memiliki semangat belajar Al-Qur’an yang konsisten, menjadi bekal penting dalam setiap peran pengabdiannya.

Suatu hari, Devi mendengar keluhan para ibu-ibu di sekolah tempatnya mengajar. Ibu-ibu tersebut merupakan karyawan di lingkungan sekolah, yang sehari-hari bekerja sebagai petugas kantin dan petugas kebersihan. Kantin sekolah yang selama ini menjadi andalan para orang tua untuk sarapan dan makan siang para siswa terpaksa tutup sementara karena renovasi. Akibatnya, anak-anak tidak lagi bisa jajan seperti biasa, dan para orang tua pun kewalahan menyiapkan bekal setiap hari di tengah padatnya aktivitas kerja.

Dampak lainnya pun mulai terasa ketika Devi semakin sering bersosialisasi dengan para ibu tersebut. Di sela-sela aktivitas, ia mendengarkan keluhan mereka dan ikut berdiskusi. Para ibu-ibu pekerja bercerita bahwa sebelumnya mereka mengandalkan sistem jula-jula untuk memenuhi kebutuhan harian, dengan nominal sekitar dua ratus ribu rupiah per minggu. Jula-jula merupakan istilah yang digunakan untuk pengumpulan uang atau barang oleh sekolempok orang. Sistem jula-jula mirip seperti arisan, namun tidak ada acara kumpul-kumpul bersama.

“Dulu lancar kali kami bayarnya, Bu. Tiap hari ada pegang uang dari kantin,” ujar salah seorang dari mereka. Namun sejak kantin tutup, penghasilan tambahan harian itu terhenti. Mereka pun kebingungan membayar kewajiban jula-jula, sementara gaji dari sekolah hanya diterima sebulan sekali.

Mendengar cerita itu, Devi terdiam sejenak. Ia ingin membantu, tetapi sadar bahwa meminjamkan uang bukanlah solusi jangka panjang. Hingga akhirnya, sebuah ide sederhana muncul. “Bagaimana kalau saya bantu ibu-ibu jualan saja?” ucap Devi kepada Ibu-Ibu itu.

Devi pun mengusulkan sistem open order harian. Orang tua murid bisa memesan makanan, dan para ibu-ibu yang menyiapkannya. Pada minggu pertama, ia mempromosikan jualan tersebut lewat status WhatsApp. Responsnya belum banyak. Namun seiring berjalannya waktu, pesanan mulai berdatangan dan terus meningkat.

Dengan penuh kehati-hatian, Devi menjaga profesionalismenya sebagai guru. Ia membatasi jangkauan unggahan jualannya agar tidak menimbulkan asumsi negatif di lingkungan sekolah, mengingat aktivitas jual beli tidak diperbolehkan dilakukan oleh guru. Seluruh transaksi dilakukan di luar area sekolah, disertai komunikasi yang terbuka dan jujur kepada para orang tua murid.

Alhamdulillah, upaya sederhana itu membuahkan hasil. Dari aktivitas berjualan tersebut, para ibu pekerja kini memperoleh penghasilan lebih dari dua ratus ribu rupiah per minggu. Masalah jula-jula pun perlahan teratasi. “Saya melihat senyum sumringah di wajah ibu-ibu itu. Dan di situlah saya merasa bahagia karena bisa membantu sesama,” tutur Devi.

Kisah Devi adalah satu dari sekian banyak bukti bahwa Beasiswa InCare bukan hanya mencetak lulusan berijazah, tetapi juga melahirkan agen perubahan di lingkungannya masing-masing. Dari ruang kelas hingga dapur sederhana, dari persoalan kecil hingga dampak yang berarti. Semua berawal dari kepedulian dan keberanian untuk bertindak.

Karena sejatinya, pendidikan yang baik bukan hanya mengubah masa depan penerimanya, tetapi juga menghidupkan harapan bagi banyak orang di sekitarnya. Hal ini bisa ditiru oleh para alumni lain yang memiliki relasi luas agar memiliki dampak yang lebih luas dirasakan oleh masyarakat ■ Indah

0 Comments