Kabut tipis masih menggantung di langit Tanah Karo ketika relawan Program Tebar Qurban (PTQ) 1447/2026 Ulil Albab tiba di Desa Sukajulu, sebuah desa yang menyimpan ketenangan di tengah hamparan ladang dan kebun yang menghijau.
Kawasan ini dikenal karena keindahan alamnya, mulai dari panorama Gunung Sinabung hingga kebun stroberi yang tumbuh subur di udara pegunungan yang sejuk. Suhu yang dapat mencapai 17 derajat Celsius membuat pagi dan malam terasa dingin menusuk.
Desa ini muslimnya minoritas. Karena itu, suasana Idul Adha di desa ini berlangsung sederhana. Malam takbiran tidak dipenuhi iring-iringan kendaraan atau gemuruh pengeras suara sebagaimana lazim ditemui di banyak daerah. Hanya lantunan takbir yang terdengar sayup dari Masjid Muttaqin Sukajulu. Mengalun pelan di antara dinginnya malam dan sunyinya perkampungan.

Namun justru dalam kesederhanaan itulah relawan menemukan hal yang berharga: ketulusan alami masyarakat desa. Sejak pertama menginjakkan kaki di Sukajulu, relawan disambut layaknya keluarga.
Teh hangat, jajanan sederhana, dan percakapan yang mengalir tanpa sekat menjadi pembuka malam yang begitu berkesan. Tak ada kesan canggung atau berjarak. Yang terasa justru keakraban yang tumbuh begitu cepat, seolah kami telah lama saling mengenal. Di tengah segala keterbatasan yang ada, mereka tetap memiliki ruang yang luas untuk berbagi dan memuliakan tamu.
Keesokan harinya, setelah shalat Idul Adha, warga berkumpul dan bersiap bergotong royong. Kaum wanita sibuk menyiapkan hidangan di dapur. Para pria bersama menangani berbagai keperluan, sementara anak-anak berlarian membantu sebisanya.
Seluruh warga terlibat dalam suasana kebersamaan yang begitu kuat. Tidak ada sekat antara tamu dan tuan rumah, antara relawan dan warga. Semua larut dalam semangat yang sama: saling membantu dan saling menguatkan.
Perjalanan ke desa kecil di kaki pegunungan Sinabung itu pada akhirnya meninggalkan pelajaran yang jauh melampaui makna sebuah even penyaluran qurban. Ketika sore menjelang dan kendaraan yang menjemput relawan mulai bergerak meninggalkan desa, beberapa warga masih berdiri di tepi jalan sambil melambaikan tangan. Senyum mereka tetap sama hangatnya seperti saat pertama kali menyambut kedatangan relawan ■ Nurul





0 Comments