Ketika Banjir Merusak Segalanya, Al-Qur’an Tetap Menjadi Pegangan

Dec 30, 2025 | Layanan Dakwah, News, Ulil Albab

Nenek Lis Nur, yang akrab disapa warga sekitar sebagai Nek Jahit—berusia 72 tahun. Puluhan tahun hidupnya dihabiskan di balik mesin jahit kecil di rumahnya. Namun kini, usia membuat jarinya tak lagi sekuat dulu. Jahitan berhenti, tapi satu kebiasaan tak pernah ia tinggalkan: membaca Al-Qur’an setiap hari.

Nek Lis tinggal di Jalan Kampung Lalang, Gang Hj. An Nur, Medan. Kawasan ini menjadi salah satu wilayah yang terdampak banjir bandang pada Jumat (26/11). Saat banjir datang, air masuk ke rumahnya hingga setinggi dada orang dewasa. Bersama keluarga, Nek Lis berhasil menyelamatkan diri dan mengungsi ke masjid terdekat yang tidak terdampak banjir.

Ketika air mulai surut, mereka kembali ke rumah. Lumpur, sisa-sisa banjir, dan perabot yang rusak menjadi pemandangan pertama yang mereka hadapi. Di tengah keterbatasan itu, Nek Lis tidak sibuk menghitung kerugian. Ia hanya berusaha menyelamatkan satu hal yang paling berarti baginya: mushaf Al-Qur’an yang setiap hari ia baca, serta buku Iqra’ milik cucunya.

Rumah bisa dibersihkan kembali, dan barang bisa dicari penggantinya. Namun bagi sebagian orang, kehilangan kesempatan untuk membaca Al-Qur’an terasa jauh lebih berat daripada kehilangan harta.

Mushaf dan Iqra’ itu ia jemur di halaman rumah. Setiap hari, Nek Lis membuka lembar demi lembar halaman yang basah dan saling menempel. Ia berharap mushaf itu bisa kembali kering, agar ia dapat melanjutkan kebiasaan membacanya. Namun seiring waktu, harapan itu perlahan pupus. Semakin kering, halaman mushaf justru semakin lengket. Ketika ia mencoba membuka halaman demi halaman, kertas mushaf itu sobek dan koyak.

Raut sedih tampak jelas di wajah Nek Lis. Bukan karena rusaknya mushaf semata, melainkan karena ia merasa kehilangan rutinitas yang selama ini menenangkan hatinya. Ia sedih karena tidak bisa lagi membaca Al-Qur’an setiap hari, seperti yang biasa ia lakukan.

Melihat kesedihan itu Edi, amil Ulil Albab sekaligus tetangga Nek Lis mendekat dan menenangkan. “Nek, sudah la tidak usah sedih. Al-Qur’annya sudah rusak. Nanti kami kasih yang baru ya dari Ulil Albab,” ucapnya. Kalimat sederhana tersebut menghadirkan senyum kecil di wajah Nek Lis. Edi pun segera menyampaikan kondisi Nek Lis kepada Direktur Ulil Albab agar bantuan dapat segera diberikan.

Pada Kamis (18/12), Ulil Albab menyerahkan mushaf Al-Qur’an berukuran besar kepada Nek Lis. Tak hanya itu, buku Iqra’ juga diberikan untuk sang cucu. Mushaf dengan tulisan besar itu membuat Nek Lis lebih mudah membaca di usianya yang tak lagi muda. Nek Lis tampak senang dan terharu saat menerima bantuan Al- Qur’an tersebut.  “Terima kasih banyak Ulil Albab atas bantuan Qur’annya. Besar-besar tulisannya, saya jadi mudah bacanya. Makasih banyak ya,” ucap Nek Lis dengan mata berkaca-kaca.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh.” (HR. Tirmidzi)

Bencana mungkin merenggut banyak hal, tetapi tidak pernah mampu memadamkan cahaya iman di hati orang-orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan hidup. Dari Nek Lis, kita belajar bahwa menjaga hubungan dengan Al-Qur’an adalah bentuk keteguhan hati—dan lewat kepedulian bersama, Allah sering menghadirkan kembali jalan kebaikan yang sempat terputus ■ Indah

0 Comments