Di jalanan Marendal dan sekitarnya, suara khas speaker becak motor milik Dodi Mustafa (49 tahun) menjadi penanda hadirnya susu kedelai hangat nan segar. Namun, di balik dagangan sederhana itu, tersimpan kisah luar biasa tentang perjuangan, hijrah, dan keberkahan hidup.
Sudah 10 tahun Dodi menjajakan susu kedelainya dari pagi hingga sore. Namun siapa sangka, sebelumnya ia adalah pedagang burger sukses. Dengan keahlian yang ia peroleh saat bekerja di restoran cepat saji, burger buatannya dikenal lezat dan padat daging sapi asli.
Penghasilannya saat itu cukup lumayan; ia mampu membayar kontrakan dan membeli sepeda motor. Tapi di balik keberhasilan materi itu, ia merasa ada yang hancur—shalat yang sering terlambat, pengajian yang ditinggalkan, hingga Ramadhan yang kehilangan makna karena sibuk berdagang saat waktu ibadah tiba.
Kegelisahan spiritual itu membawanya hijrah. Ia sempat merantau ke Malaysia, membantu saudaranya berjualan sate. Di sanalah ia mendapat ide dari seorang teman untuk berjualan susu kedelai. Sepulang ke Medan, ia belajar membuat susu kedelai dan mulai berdagang keliling dengan becak motor. Dengan pengaturan waktu yang ia desain sendiri, ia memastikan bisa shalat lima waktu tepat waktu di masjid, menghadiri pengajian, dan memperbanyak dzikir. Ketenteraman pun kembali hadir dalam rumah tangganya.
“Sekarang saya lebih tenang jualan susu kedelai. Setelah subuh di masjid, saya langsung pergi keliling, sebelum dzuhur sudah pulang untuk shalat di masjid. Kalau siang belum habis, setelah dzuhur saya keliling lagi dan singgah ke masjid kalau sudah masuk waktu ashar, dan pulang sebelum maghrib” ucap Dodi.
Dari konsistensinya jalani hidup sesuai syariat, keberkahan mengalir. Dagangan banyak terjual, bahkan ada yang menjadi reseller susu kedelai. Ia dikenal akrab dengan panggilan “Wak Sule” oleh para pelanggannya.
Lebih dari itu, Allah menghadiahinya dengan anak-anak yang bukan hanya cerdas, tapi juga shalih dan shalihah. Anak pertamanya, Fathi, setelah mondok di pesantren, akhirnya menjadi hafidz 30 juz, mutqin 15 juz, serta lulus sebagai santri terbaik. Kini, Fathi sedang menempuh kuliah di Bogor dengan beasiswa penuh.
Haya, anak keduanya, selalu mendapatkan juara umum di pondok pesantrennya dan lulus sebagai santri terbaik . Telah berhasil menghafal 30 juz, mutqin 10 juz. Sekarang ia mendapatkan beasiswa di sebuah pondok pesantren di Megamendung, Bogor, untuk menyempurnakan mutqin hafalannya dan mengambil sanad.
Humaira, anak ketiganya berusia 14 tahun sudah memiliki hafalan sebanyak 5 juz. Sedangkan Hanna, anak terakhirnya sudah memiliki hafalan 3 juz meski masih menduduki kelas 6 SD.
Kisah Dodi bukan sekadar cerita tentang jualan susu kedelai. Ini adalah narasi tentang pilihan hidup, tentang keberanian meninggalkan yang menggiurkan demi yang menenangkan. Ini kisah tentang seorang ayah, yang dengan niat lurus dan kerja keras, mampu mengantar anak-anaknya menjadi penjaga Kalamullah.
Kisah Dodi dan keluarganya mengajarkan kita bahwa keberkahan hidup tak selalu datang dari besarnya penghasilan, tapi juga anak-anak yang shalih, waktu yang berkah, dan hidup yang tenteram. Dari gerobak susu kedelai itulah, ia menemukan surga kecil dalam keluarganya—surga yang dibangun dari kejujuran, kesederhanaan, dan keistiqamahan dalam ibadah ■ Indah





0 Comments