Sejak berdiri tahun 2011 di Jln. Pertahanan Ujung, Pasar V, Desa Patumbak I, Deli Serdang, Rumah Tahfidz Abu Farhan menjadi tempat bernaung sekitar 20 santri dari berbagai daerah, mulai Asahan hingga Aceh. Puluhan santri telah menyelesaikan pendidikan di sini dengan hafalan antara 20 hingga 30 juz.

Namun, keterbatasan menjadi tantangan utama. Kebutuhan pokok seperti beras sering tidak mencukupi karena mayoritas santri berasal dari keluarga dhuafa dan yatim. Rumah tahfidz ini tidak memiliki usaha mandiri, sehingga iuran bulanan kerap tertunggak. Untuk kebutuhan lauk, mereka hanya mengandalkan kolam ikan kecil dan sayuran di halaman. Sesekali, jika ada dana lebih, barulah bisa menikmati daging.

Tenaga pengajar juga terbatas. Dari empat ustadz, kini hanya tersisa dua. Ustadz Rusli bersama anaknya tetap berjuang mendampingi para santri. Latar belakang pendirian rumah tahfidz ini berawal dari tutupnya Rumah Tahfidz Abdur Rahman bin Auf di Medan, tempat anaknya dulu mengajar. Dari situ, ia bertekad membangun lembaga baru dengan membeli sebidang tanah secara mencicil, lalu diberi nama Abu Farhan.

Untuk meringankan kebutuhan, tim Ulil Albab menyalurkan bantuan beras sebanyak 50 kilogram. Meski belum mencukupi kebutuhan harian, bantuan ini diharapkan dapat menjaga keberlangsungan kegiatan tahfidz.

Perjalanan berikutnya menuju Rumah Tahfidz Huurun ‘Iin yang berdiri sejak 2019 di Masjid Al Barokah, Kec. Deli Tua, Deli Serdang. Saat ini, sekitar 30 santriwati belajar di bawah bimbingan Ustadz Abu Umair. Mayoritas berasal dari keluarga kurang mampu. Santri yatim dan dhuafa tetap diterima meski tidak membayar iuran.

Kebutuhan mushaf menjadi kendala utama. Setiap awal tahun ajaran, pihak pengelola harus mencari donasi tambahan agar seluruh santriwati memiliki mushaf. Tim Ulil Albab turut menyalurkan mushaf guna mendukung kelancaran kegiatan belajar.

Kisah dua rumah tahfidz ini menunjukkan bagaimana keterbatasan tidak menyurutkan semangat menjaga cahaya Al-Qur’an di tengah masyarakat.

0 Comments