Infrastruktur kesehatan publik negeri-negeri muslim era keemasan Islam diakui memiliki standar kualitas yang tinggi. Ini bisa dilihat dari angka harapan hidup penduduk (life expectancy) yang berada pada peringkat tertinggi dunia pada masanya.
Lawrence Irvin Conrad dalam buku The Western Medical Tradition: 800 BC to AD 1800 menulis, “During the period of the medieval Islamic Caliphate, life expectancy at birth of the general population was relatively high, above 35 years..”
Padahal di Inggris pada kurun yang sama, lanjut Lawrence, angka harapan hidup kelas bangsawan sekalipun hanya mencapai 30 tahun. Sebagai perbandingan, angka harapan hidup pada awal abad 20 saja ada pada angka 31 tahun.
Tidak berhenti pada sektor kesehatan, kualitas indeks pembangunan manusia pada puncak kejayaan Islam merambah pula dunia pendidikan. Sejumlah data yang dirilis peneliti memberitahu kita akan hal ini.
Andrew J. Coulson dalam Delivering Education menulis, “The ability to read and write was far more widely enjoyed in the early medieval Islamic empire [..] than in any other cultures of their times..”
Penulis buku terkenal Marketing Education: Unknown History tersebut mencatat, tingkat literasi masyarakat pada era kekuasaan Islam berada pada rating tertinggi dibanding peradaban manapun pada masanya.
Fakta menariknya, sumber finansial di belakang kesuksesan itu bukan datang dari pemerintah, melainkan sektor privat. Mereka adalah kelompok masyarakat yang berprofesi pedagang, pelaku produksi, atau penyedia jasa, yang mendonasikan harta mereka untuk kepentingan umat.
Berlandaskan motivasi dari ajaran Islam sendiri, jumlah mereka lambat laun semakin meningkat. Akhirnya semangat kedermawanan ini bergelinding membentuk suatu gerakan filantropi yang tumbuh secara masif di semua negeri muslim.
Kalau zaman sekarang gerakan filantropi muslim diwakili oleh gerakan zakat, maka dalam peradaban Islam masa lalu ekspresi gerakan filantropi adalah wakaf.
Subjek donasi pun beraneka ragam mulai dari tanah pertanian, bangunan, pabrik, sumber air, perahu, bahkan hingga alat produksi semacam perangkat tenun turut didonasikan kepada lembaga-lembaga wakaf.
Tercatat, Al-Quds (Yerusalem) pada permulaan abad ke-12 memiliki 64 aset wakaf yang hasilnya digunakan khusus membiayai 40 sekolah dan perguruan tinggi yang ada di Palestina, Syria, hingga Anatolia.
Sementara itu Turki Utsmaniyah abad ke-18, yang wilayahnya membentang dari Timur Tengah hingga Eropa Timur, sepertiga dari total lahan produktifnya adalah hasil donasi untuk wakaf.
Sumber finansial sebesar itu kemudian digunakan untuk mengoperasikan proyek-proyek sosial dan pemberdayaan. Dampak jangka panjangnya, salah satunya bisa dilihat dari indeks kesehatan dan pendidikan di atas.
Tidak berlebihan jika pakar sejarah ekonomi Islam menjuluki gerakan filantropi khas kaum muslimin ini sebagai “vehicle for financing Islam as a society” ■ Salman





0 Comments