Semenjak ditinggal suami yang dicintainya setahun yang lalu, karena penyakit paru – paru, Tringat (70) harus bekerja keras guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Sesekali ia dibantu anaknya. Akan tetapi ia lebih memilih untuk bekerja dan mencari penghasilan dari keringatnya sendiri. Ia tidak ingin menyusahkan anak-anak dan orang sekitarnya. Apalagi kehidupan anaknya juga serba pas-pasan.

Tringat, adalah wanita penduduk asli Desa Sarilaba Jahe, Sibiru-biru, Deli Serdang. Sama seperti warga lain disitu, ia mengandalkan hasil ladang sebagai sumber mata pencaharian. Di ladangnya, wanita renta itu menanam berbagai macam sayuran, yang hasilnya dijual ke pasar guna memenuhi kebutuhannya.

Namun, penurunan kekuatan dan daya tahan tubuh seiring dengan pertambahan usia, adalah hal yang belakangan ini semakin sering dirasakannya. Sepulang dari berladang, sering ia merasakan ngilu, nyeri pada sendi dan seluruh tubuhnya. Bagi orang seusianya, apalagi seorang wanita, tentu itu hal yang wajar. Idealnya ia memang sudah harus berhenti dari aktifitas berladang, yang dikerjakannya sendiri.

Selama ini, saat rasa sakit itu datang, Tringat hanya beristirahat dan mengobati rasa sakitnya dengan menggosokkan minyak ke bagian tubuh yang sakit.

“Kalau badan ku ini sakit, ku gosokkan aja minyak karo biar cepat aku sehat. Kalau udah tak tahan lagi aku sakit kaki ku ni, baru aku ke bidan. Sekali berobat 30 ribu (rupiah). Kalau besuntik 45 ribu. Sayang duitnya. Kalau ke puskesmas jauh, harus pagi-pagi kita kesana, sementara pagi aku di ladang. Tak bisa lama-lama kita sakit, tak ada nanti yang mengerjakan ladang,” ungkap wanita penuh semangat ini.

Bagi wanita yang berpenghasilan tidak tetap itu, biaya berobat menjadi beban tersendiri yang harus  dipikirkannya. Dilemmatis. Diobati terasa berat, tidak diobati, beresiko ladang tidak menghasilkan panenan karena tidak tertangani.

Program Sahabat Mobile Clinic (SMC) yang memberikan pengobatan dan konsultasi kesehatan gratis kepada masyarakat penerima layanan, menjadi oase bagi banyak dhuafa. Khususnya warga dhuafa di daerah terpencil yang disinggahi program ini.

Even SMC yang dilaksanakan Klinik Sahabat Ulil Albab, di Desa Sarilaba Jahe, pada Ahad (24/2), telah menghadirkan ± 42 peserta. Tringat adalah salah satunya. Baginya, walaupun sekali, ia senang tidak perlu mengeluarkan biaya berobat.

Usia warga yang hadir beragam, mulai dari bayi hingga lansia. Mereka sangat gembira dengan kehadiran tim medis. Apalagi even pengobatan gratis ini sangat jarang dilaksanakan di wilayah mereka.

“Kami sangat berharap SMC bisa dibuat lagi disini. Warga sangat terbantu dengan perobatan gratis Ulil Albab. Terima kasih, moga tidak kapok melayani warga kami,” ujar Endang, saat diminta mewakili warga §

Share this: