Kang Bahri, demikian masyarakat sekitar biasa memanggilnya. Ia adalah sosok lelaki pemilik warung bubur. Sudah sejak 3 tahun silam ia berjualan.

Lokasi warungnya, di Jalan Perhubungan, Lau Dendang, Kecamatan Percut Sei Tuan, Deli Serdang. Selain berjualan bubur, Kang Bahri juga berjualan mie ayam dan es jagung.

Nama lengkapnya, Surya Bahri. Usianya 40 tahun. Anaknya 3 orang. Luar biasanya, ketiga anaknya merupakan penghapal Alquran.

Penampilannya sederhana. Kopiah, senantiasa melekat di kepala. Itulah ciri keseharian Kang Bahri. Sekalipun demikian, ia dikenal sebagai pribadi yang humoris kepada setiap pembeli. Apalagi kepada pelanggannya.

Menurut sosok ramah ini, berdagang, selain untuk memenuhi nafkah keluarga, juga sebagai salah satu jalannya untuk berdakwah. Ucapan itu dibuktikannya. Saat tiba waktu shalat, ia akan bergegas menutup warungnya.

Agar tidak mengecewakan pembeli yang belum paham, di depan warungnya, Kang Bahri meletakkan tulisan, “Sedang sholat, mari kita sholat”. Setelah itu, ia pun bergegas pergi ke masjid, melaksanakan shalat berjamaah. Begitu setiap hari ia lakukan.

Katanya, saat menutup warung, ia ingin menyampaikan pesan sekaligus menyadarkan orang-orang, bahwa sudah masuk waktu salat. Dengan begitu, secara tidak langsung ia mengajak orang-orang  untuk ke masjid.

Saat ditanya, tanggapan pembeli dan orang sekitar, mengenai kebiasaannya itu, ia berkata bahwa mulanya memang orang-orang memandangnya aneh. Terkesan berlebihan. Ungkapan “sok alim”, dan sejenisnya, sering ia dengar. Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, akhirnya orang-orang pun jadi menganggapnya biasa.

Seakan mematahkan anggapan keliru di sebagian kecil orang yang belum paham Islam, bahwa ibadah dapat mengurangi rezeki dan produktifitas, yang terjadi justru sebaliknya. Warungnya selalu ramai dikunjungi pembeli. Pengunjung datang, seolah tiada henti. Omzetnya lumayan besar. Antara 700 ribu hingga 1,5 juta rupiah setiap harinya.

Selain istiqamah menjaga ibadah, Kang Bahri juga berusaha menjaga jualannya agar tidak bercampur dengan unsur yang tidak sehat. Tidak heran, Ia pun berani mempromosikan kepada pembeli, bahwa dagangannya bebas dari bahan-bahan pengawet, penyedap, dan sejenisnya.

Insya Allah, dagangannya aman bagi siapa saja. Termasuk untuk anak-anak ■ Shofiatul H Lubis

Share this: