Setiap bulan, tim Sahabat Dakwah Ulil Albab memiliki jadwal rutin supervisi, sekaligus mengantarkan dana bantuan operasional bagi da’i dan guru yang tergabung dalam Korps Da’i Pelosok (KDP) Ulil Albab.

Agar memunculkan semangat dan terobosan baru, biasanya saat kunjungan itu diiringi dengan diskusi dan masukan tentang aktifitas para da’i dan guru.

Itu sangat diperlukan, khsususnya bagi para guru di pelosok. Faktor terbatasnya akses informasi dan pihak yang dapat dajak berbagi ilmu, mau tidak mau membuat mereka harus mandiri dan kreatif dalam banyak hal. Termasuk bagi Supiatun dan guru-guru di Madrasah Nurul Iman, Jandi Meriah.

Syukurnya, berbagai keterbatasan itu tidak membuat mereka melempem. Justru berbagai terobosan aktif mereka lakukan. Khususnya dalam memajukan dan mengembangkan madrasah, yang kini di dindingnya terpampang tulisan “Madrasah Nurul Iman, Mitra Ulil Albab Medan”.

Termasuk dalam pembebasan lahan yang berlokasi di sebelah bangunan madrasah. Alhamdulillah, tanah itu berhasil dibeli dan dimiliki. Selesai itu, Supiatun melalui group WA Muslim Jandi Meriah se-Indonesia, berhasil menggerakkan pengumpulan donasi guna membangun dua lokal belajar.

Jadilah sekarang bangunan itu tempat yang nyaman untuk tempat belajar lebih dari 100 siswa. Ditambah lagi ruang belajar yang baru diresmikan tahun lalu itu, telah berlantai keramik. Lengkap dengan meja lipat layaknya ruang perkuliahan.

Tak puas sampai disitu, Supiatun terus menggali ide guna mempertahankan semangat belajar murid-muridnya. Melalui medsos, Supiatun mengajak warga kampungnya yang bekerja di luar untuk menyumbang seragam bagi para guru dan murid.

Ia juga rutin mengadakan penggalangan dana untuk pengadaan sarana, dan hadiah di setiap kenaikan tingkat. Baik dari Iqro’ ke Qur’an, penghafal surat-surat pendek, serta murid yang rajin hadir.

“Ada murid yang sangat lamban belajar. Kami kasih hadiah kerajinan, menjadi hadir setiap hari. Sekarang, setiap bulan dia mengecek, sudah berapa absennya. Khawatir gak dapat hadiah lagi bulan depannya,” ujar Supiatun sambil tertawa.

Sementara untuk murid yang khatam Qur’an, Supiatun dan guru-guru membuat selamatan pulut kuning. Kreasi kegiatan seperti itu, membuat murid-murid betah belajar di madrasah. Bahkan, pernah tercetus ucapan dari muridnya, “kami lebih enak sekolah di madrasah daripada di SD”

Kegigihan Supiatun juga telah berhasil menarik donatur untuk membantu pembebasan lahan seluas 0,5 hektar di samping madrasah, yang ia rencanakan kelak akan dibangun rumah bagi guru-guru ■ Danil Junaidy Daulay

Share this: