Saat ini, ia masih aktif menjabat guru sekolah dasar, di MIS Al-Ittihadiyah Tanjung Morawa. Amran, begitu ia biasa disapa. Mengawali karir, sebagai guru mata pelajaran Al Qur’an dan Hadits, sejak sekolah tersebut pertama kali didirikan, tahun 1999.

Lelaki berusia 63 tahun ini, pada mulanya merasa tidak pantas menjadi guru. Mengingat ia tidak memiliki ijazah atau sertifikat dalam bentuk apapun, guna memenuhi syarat administrasi tenaga pendidik.

Riwayat pendidikan formal Amran memang terbatas. Hanya menempuh jenjang pendidikan dasar, alias SD. Pada era 60-an, rata-rata cuma itulah pendidikan formal yang dapat digapai anak dan remaja seusianya.

Sebenarnya, ia bukan tidak ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Namun, kondisi saat itu tidak memungkinkan ayah tiga anak ini, untuk menjalaninya.

“Saya tidak punya tamatan,” jawab Amran, saat awal ditawarkan menjadi guru, oleh kepala sekolah tempat ia kini mengajar. Tentu, tamatan yang ia maksudkan adalah ijazah.

Beliau mengenang, waktu itu sekolah baru berdiri. Guru, baru ada 4 orang. Jika dibandingkan dengan jumlah murid, sangat tidak memadai. Akhirnya Amran menerima tawaran tersebut.

“Saya pikir tidak ada salahnya menjadi guru. Kasihan anak-anak kekurangan pengajar. Apalagi saya punya sedikit pengetahuan dalam bidang baca tulis Al Qur’an,” kenangnya, saat dijumpai Sahabat Pendidikan Ulil Albab.

Saat ini Amran tinggal di Dusun II Bandar Labuhan, Deliserdang. Ia rutin menempuh perjalanan ke sekolah, yang berjarak sekitar 1 kilometer, dengan mengendarai sepeda motor butut yang setia menemani 20 tahun karirnya sebagai guru.

Selama mengajar, ia dikenal sebagai teladan di kalangan sejawatnya. Selain tidak pernah telat, ia juga hampir tidak pernah absen mengajar. “Beliau hanya absen jika sedang sakit,” kata kepala sekolah, saat bercerita tentang sosok panutan para guru ini.

Mengajar, menjadi sebuah idealisme baginya. Tidak heran, penghasilan dari mengajar yang masih jauh dari memadai, diterimanya dengan ikhlas. Sebagai guru mata pelajaran Al Qur’an, honornya hanya berkisar 200-400 ribu rupiah tiap bulan. Guna menutupi kebutuhan keluarga, sekitar 5 tahun terakhir, ia membuka usaha warung kecil-kecilan.

Latar belakang pendidikannya yang terbatas, membuat Amran sulit untuk mengurus kenaikan jenjang guna memperoleh dana bantuan guru dari pemerintah. Bantuan-bantuan tersebut, biasanya mensyaratkan batas pendidikan minimal setingkat sarjana.

Lantas, apa yang membuat Amran betah mengajar? “Saya sudah jatuh cinta dengan sekolah ini. Selama 20 tahun mengajar, berat rasanya meninggalkannya, kecuali sekolah sudah tidak membutuhkan tenaga saya lagi,“ ujarnya tulus.

Tentang kehidupannya, ia menyerahkan diri kepada Yang Maha Mengatur. Selama ini, ia merasa banyak memperoleh kemudahan dan kelapangan.  “Allah akan mengangkat derajat orang beriman dan berilmu di tengah manusia dengan caraNya sendiri,” tandasnya.

Kepada koleganya, para guru-guru muda, ia kerap berpesan agar ikhlas mendidik serta menjaga akhlaq dan wibawa seorang guru. Menjadi guru, menurutnya, jangan hanya mengajar di dalam kelas, tapi juga harus memperhatikan murid ketika di luar sekolah ■ Robiatul Adawiya

Share this: