Alkisah suatu hari Abdullah bin Amru bin Al Ash bertutur bahwa ketika mereka duduk di sekeliling Rasulullah SAW untuk menulis, tiba-tiba Rasulillah SAW ditanya tentang kota manakah yang akan dibebaskan terlebih dahulu. Para sahabat bertanya, ”Ya Rasulullah, apakah kota Konstantinopel atau kota Roma? Maka Rasulullah SAW menjawab, ”Kota yang akan jatuh adalah yang dipimpin oleh Heraklius terlebih dahulu (Konstantinopel). Kalian pasti akan membebaskan Konstantinope!”.

Mari sejenak membayangkan situasi para sahabat saat itu. Ditengah keterpurukan rasa percaya diri, dan himpitan gelisah yang membuat lemah semangat juang karena perlakuan kaum musyrikin, para sahabat mendengar kisah dari Rasulullah itu dengan seksama. Kisah itu menjadi bisyarah (kabar gembira) janji Allah, dan menjadi penyemangat harapan ditengah keputusasaan kaum muslimin.

Lalu Baginda Rasul meneruskan ucapannya, “Dimana pasukan yang mampu menaklukkannya adalah sekuat-kuatnya pasukan dan pemimpinya adalah sehebat-hebatnya pemimpin.”

Kisah ini menjadi torehan sejarah yang terus menggema. Diyakini, lalu diwariskan melalui kisah shahih dalam riwayat hadist Ahmad. Pada akhirnya kisah itu benar terwujud beberapa abad kemudian. Menjadi kisah yang menginspirasi generasi Islam. Hingga sekarang. Kita pun mengenal sosok Muhammad Al Fatih, sang legenda penakluk Konstantinopel pada tahun 564, diusia 21 tahun!

Sebuah kisah, membentang sepanjang usia manusia ada di muka bumi. Kisah menurut kamus besar bahasa Indonesia, bermakna cerita tentang kejadian dalam kehidupan seseorang atau riwayat sesuatu dimana wacana cerita, bisa berdasar pengalaman, rekaan atau kenyataan.

Mendengarkan kisah yang dibacakan kepada kita, atau yang kita baca, mengaktifkan korteks pendengaran otak, terutama korteks temporal kiri. Bagian otak ini mampu menyaring kata-kata yang sering digunakan. Itulah sebabnya setiap berkisah berhati-hati tentang bahasa yang digunakan, untuk menjaga otak tetap aktif menerima rangsangan. Ketika sebuah kisah disampaikan penuh perasaan, empati dan emosional, maka pendengar merasakan semacam keterlibatan emosional dengan sebuah cerita.

Penelitian juga menunjukkan bahwa semua aktivitas otak ini dapat berlangsung selama beberapa hari. Menjelaskan mengapa kisah-kisah bagus cenderung tetap bersama kita.

Semua aktivitas yang terjadi dalam kisah baik fisik, spiritual, mental ini juga dapat membawa perubahan pada tubuh kita. Semakin banyak kisah yang digerakkan oleh karakter akan memengaruhi pelepasan oksitosin ke dalam darah, hormon yang disebut “empati” yang membantu ikatan orang.

Semua fakta ini memungkinkan, melalui kisah, kita membentuk karakter baru dalam kehidupan. Jika ingin anak menjadi pemberani seperti Al Fatih, rajinlah berkisah tentang perjuangan dan kepahlawanan. Jika anak tertarik pada sains, seringlah bercerita tentang kegigihan dan kesabaran para penemu dan ilmuan.

Pada akhirnya berkisah merupakan metode yang tepat dalam membangun semangat, memberi inspirasi dan memasukkan nilai-nilai yang dapat dikembangkan secara personal. Karena menurut Siswanto (2008), berkisah memberi kesenangan, mengembangkan imajinasi, memasukkan pengalaman yang bisa dihayati dan meluaskan pandangan pada prilaku manusia. Karena sesungguhnya, ketika anda berkisah, kisah baru sedang bermula. Maka berkisahlah.

Share this: