Sudah 2 tahun, setiap selesai shalat idul adha, masyarakat Desa Kwala Air Hitam bersedih hati. Penyebabnya, tidak ada hewan qurban yang dipotong selesai shalat dilaksanakan. Jamaah shalat langsung bubar pulang. Tidak ada keramaian pemotongan qurban di tanah lapang samping masjid.

Turunnya harga sawit, yang merupakan sumber utama pencarian warga, menjadi salah satu alasan utama penyebab ketiadaan syiar qurban. Apalagi masyarakat yang mayoritas muslim, sebagian besar adalah buruh sawit dan pabrik. Sebenarnya setiap tahun mereka tetap merencanakan adanya pelaksanaan qurban, namun apa daya kondisi ekonomi mereka sangat tidak memungkinkan.

Berawal dari info Renaldy, mahasiswa penerima beasiswa Ulil Albab, yang juga merupakan warga setempat. Ia menginfokan bahwa di 2019 ini, hampir sama kejadiannya seperti sebelumnya. Belum ada kejelasan qurban, khususnya di Dusun III dan Dusun V, Desa Kwala Air Hitam.

Berdasar info tersebut, akhirnya Program Tebar Qurban (PTQ) UA memutuskan untuk menyalurkan 1 ekor lembu dan 6 kambing. Dialokasikan mengcover mustahik di 3 dusun sekitar.

Hari-H idul adha, semua warga berbondong keluar. Bersiap hadiri shalat. Masya Allah, khatib sekaligus imam, langsung dipimpin Renaldy. Sungguh hal yang membahagiakan sekaligus membanggakan warga.

Selesai itu, relawan UA bersama beberapa panitia bersiap. Agar menjangkau kaum muslimin di dua dusun lain, pemotongan dilaksanakan di Kampung Tengah Dusun Tiga.

Awalnya suasana tidak terlalu ramai.  Tidak lama, warga makin ramai. Mereka antusias membantu. Suasana idul adha benar-benar hidup kembali.

Dari mulai penyembelihan, menguliti, mencincang, hingga membungkus daging, warga kompak dan bergotong-royong. Alhamdulillah sebelum zuhur, semua tuntas. Beberapa warga berkomentar, sangat bahagia terlibat membantu. Hal yang tidak mereka rasakan selama 2 tahun terakhir.

“Makasih Nak, kalian baik sekali mau datang bawa qurban,” ujar Nur, ditemani Ngatemun, suaminya, sembari menangis terharu. Keluarga ini bagian dari 210 keluarga dhuafa penerima manfaat.

Suami istri jompo ini, tinggal bersama dua cucunya.  Kondisi rumah mereka memprihatinkan.  Lantainya tanah. Dindingnya kayu. Info warga, belakangan, mereka berdua sering sakit-sakitan.

“Alhamdulillah, qurban hadir kembali di kampung kami. Ulil Albab menyadarkan kami bahwa orang di luar sana masih peduli. Kami bertekad, ke depannya tidak boleh lagi tidak ada qurban di dusun kami. Terimakasih Ulil Albab dan para donatur qurban,” sampai Junaidi, Kepala Dusun, mewakili warga ■

Share this: