News

03 Aug

Bangkit Dengan Modal IMF

By: admin | Ulil Albab | Comments: 0

Aktifitas berjualan sudah dilakoninya sejak muda. Mulai dari berjualan plastik kresek, hingga menjajakan gantungan baju di pasar tradisional. Ahmad Yani juga sempat bekerja di sebuah rumah makan dan dipercaya sebagai kasir. Namun, karena sering telat makan, ia jatuh sakit. Akhirnya ia berhenti bekerja.

Alhamdulillah, selama bekerja, ia sempat sedikit demi sedikit menabung. Tabungan itulah yang ia jadikan modal untuk berjualan berbagai aksesoris dan mainan anak-anak.

Pengalaman jatuh bangun saat berjualan di pasar biasa dialaminya. Tak terkecuali diusir oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), hingga terakhir hampir ditahan karena terus berjualan di tangga masuk.

Namun, sekalipun kondisi kehidupannya saat itu terbilang susah, pria kelahiran Medan, 25 Nopember 1964 ini, tetap semangat berjualan. Ia terus bekerja keras sambil tidak lupa senantiasa berdoa.

Untuk perkara ibadah, Yani pun berusaha istiqomah menjaganya. Ia tetap usahakan hadir shalat berjamaah di masjid. Bahkan, pertemuan dan perkenalan awal dengan Jumiati, istrinya saat ini, berlangsung di masjid pasar tempat ia berjualan. Saat itu, istrinya berprofesi sebagai penjahit pakaian.

Setelah menikah, ia mulai fokus berjualan aksesoris dan mainan anak dengan menyewa sebuah kios di Pasar Metal Tanjung Mulia. Meski penghasilannya tidak menentu, ayah dari seorang anak perempuan ini, rutin menyisihkan rezekinya guna berinfaq. Tercatat, Yani adalah donatur rutin Ulil Albab sejak tahun 2001.

Selama bertahun, bersama istri dan anak, ia tinggal di rumah mertua. Namun, saat mertuanya meninggal awal 2018 lalu, rumah warisan itu, disepakati dijual untuk bagi warisan keluarga. Yani pun harus segera mencari tempat tinggal yang baru.

Berbekal sedikit tabungan dan uang warisan, akhirnya Yani dapat membeli sebuah rumah di Jalan Pendidikan Mabar Hilir. Itupun, uang berjualan dan modal menjahit sang istri, terpaksa dipakai guna menutupi kekurangan pembayaran.

Selesai? Ternyata belum. Modal yang terpakai untuk beli rumah, membuatnya bingung untuk memulai usaha. Padahal, rumah barunya memiliki sebuah kios yang lokasinya sangat strategis untuk tempat usaha.



Setelah sempat lama berpikir mencari solusi, Yani teringat dengan Ulil Albab. Dari majalah yang rutin ia terima, ia pernah membaca tentang kiprah lembaga pembiayaan modal usaha Ikhtiar Mandiri Finance (IMF) milik Ulil Albab. Akhirnya ia pun mencoba mengajukan pinjaman.

Tidak melalui proses yang lama dan rumit, pengajuannya disetujui IMF. Dana pinjaman modal pun cair. “Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dibantu Ulil Albab, karena saat krisis seperti kemarin, bantuan itu terasa sangat berharga dan menjadi penyemangat kami untuk bangkit lagi,” tuturnya.

Yani mengaku, sejak pencairan itu, keberkahan dan pertolongan Allah terus menaungi keluarganya. Ramadhan yang baru lalu, meski mereka masih baru di lingkungan tersebut, pesanan jahitan usaha sang istri terus berdatangan sampai menjelang lebaran. Bahkan harus ada yang ditolak.

Usahanya juga mulai berjalan lagi. Selain berjualan di pasar pada pagi hingga siang hari, kini di kios depan rumahnya juga sudah tersedia berbagai aksesoris, pita, mainan, hingga buku bacaan anak-anak ■ sad


printer friendly create pdf of this news item