News

12 Jun

Kusnur Betty “Allah gak tidur. Anak yatim rezekinya pasti selalu ada”

By: admin | Noktah | Comments: 0

Risman, suaminya, telah meninggal dunia pada tahun 2011. Sejak kematian sang suami, hingga saat ini, wanita yang lahir di Perbaungan, 18 Juni 1974 itu, telah menjadi singel parent bagi dua anak laki-laki.

Sejak menikah, Betty hanyalah ibu rumah tangga biasa. Tanpa ada aktifitas sampingan yang menghasilkan. Sementara suaminya menjalani profesi sebagai supir sebuah perusahaan distributor di salah satu pabrik di daerah Tanjung Morawa.

Saat itu, anak terkecilnya sedang duduk di kelas satu SD, sedangkan anak pertama kelas satu SMP. Sang suami telah lama mengidap penyakit paru-paru basah. Sekian lama berjuang mengobati penyakit, akhirnya takdir Allah menetapkan kematiannya.

Ketika suaminya meninggal, Betty merasa sangat terpukul. Raka, anak terkecilnya, juga sangat kehilangan sosok ayah. Bahkan, untuk beberapa lama, Betty terpaksa harus menemani Raka bersekolah hingga selesai jam belajar.

Hampir 6 bulan Betty meratapi kepergian suaminya. Rendy si sulung, bahkan pernah bicara kepada sang ibu, “Mamak gak boleh gini terus, ini sudah takdir. Ayah itu juga manusia, pasti akan meninggal dunia juga.”

Betty berasal dari keluarga biasa. Sekolahnya tidak tinggi, hanya sampai SMP. Ia juga tidak memiliki pengalaman bekerja. Namun, agar dapat menafkahi atau membiayai pendidikan anak-anaknya, ia merasa harus segera bangkit dari keterpurukan.

Mengambil upahan mencuci pakaian, setrika, serta asisten rumah tangga dari rumah ke rumah, menjadi pilihannya mencari nafkah. Dalam benaknya cuma ada pikiran, “Anakku harus tamat sekolah, mereka harus punya pendidikan. Apalagi mereka laki-laki, harus bisa mandiri dan punya ilmu nantinya,” tekadnya.

Sebuah rumah kecil berukuran 3 x 7 meter berdinding tepas yang beralamat di Jl. Tirta Deli, Tanjung Morawa, menjadi tempat tinggal mereka saat ini. Wanita yang belum berniat menikah lagi itu, bekerja sejak pagi hingga tengah hari.

Dari setiap rumah yang memakai jasanya, ia mendapat upah antara 200 hingga 400 ribu rupiah perbulan. Di awal ia sempat bekerja di 3 rumah. Namun dengan berbagai pertimbangan, kini ia hanya menyanggupi 2 rumah saja.

Alhamdulillah dari kerja kerasnya itu, Rendy sudah menamatkan SMA sejak dua tahun lalu. Si sulung ini juga cukup tahu diri. Beberapa kali ia mencoba bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Terakhir, atas kebaikan seorang tetangga, kini ia diterima bekerja di pabrik pengolahan berbagai jenis makanan.

“Kalau ingat masa awal suami meninggal, saya jadi merasa bodoh dan cengeng. Padahal Allah Maha Kuasa. Allah gak tidur. Anak yatim rezekinya pasti selalu ada. Semuanya harus dengan sabar dan tetap tawakal hadapinya. Sekarang saya bersyukur, sangat sangat bersyukur,” tandas Betty.

Beberapa hari lalu, program Berkah Ramadhan 1439 H Ulil Albab, turut menyampiri keluarga ini. Keluarga Betty mendapatkan Paket Yatim Dhuafa ■ isc


printer friendly create pdf of this news item