News

07 May

Berantas Syirik Dengan Ajar Fardhu Kifayah

By: admin | Sharing | Comments: 0

Di banyak tempat, masih kerap dijumpai prilaku yang dapat menggiring kaum muslimin jatuh dalam kesyirikan. Sering, mereka melakukan itu karena ketidakpahaman terhadap Islam. Aktifitasnya bisa bermacam. Pedukunan, kurafat berbungkus ibadah, ataupun pengobatan. Sebenarnya, berbagai prilaku itu, jangankan prinsip tauhid, logika saja tidak masuk.

Ada yang menyiram air jeruk purut yang sudah dimantrai, di tempat hilangnya sebuah benda. Agar si pencuri mengembalikan barang curian ke tempat semula, kata sang dukun.

Di kasus lain, juga atas arahan dukun, seseorang pergi ke beberapa masjid untuk mengambil air di 7 masjid yang berbeda. Alasannya, air itu sebagai penyembuh penyakit tertentu.

Di kecamatan Namorambe, kabupaten Deliserdang, tinggallah seorang da’i muda bernama Herman Sembiring. Bertahun beliau menjadi salah satu penggiat dakwah di beberapa lokasi di kecamatan itu. Beberapa tahun belakangan, ia telah bergabung dalam Korps Da’i Pelosok (KDP) Ulil Albab.

Sebagai pendakwah, selain pembinaan keilmuan kepada warga, Herman juga aktif memberikan pengajaran fiqh praktis. Diantaranya tata cara fardhu kifayah. Pengajaran fardhu kifayah ia lakukan dengan intens, tidak hanya sebagai ilmu, tetapi juga dalam rangka menghempang prilaku syirik sebagian warga.

“Saya giatkan mengajar fardhu kifayah disini, karena dalam pelaksanaannya masih banyak bercampur kesyirikan,” ungkap Herman prihatin.
Dengan berbagai alasan, selama bertahun, berbagai praktek kemusyrikan dan tahayul, masih dijalani dan dipercayai kaum muslimin setempat. “Mulai dari mengambil air bekas mandi mayit untuk obat rematik atau asam urat, dan kepercayaan tidak boleh menggali kuburan bagi laki-laki yang mempunyai istri sedang hamil,” tambahnya.

Guna mengantisipasi sekaligus mereduksi penyakit tauhid itu, da’i muda ini giat mengeduksi melalui pelatihan fardhu kifayah. Rata-rata per bulan, pelatihan berlangsung 4 kali. Lokasi dipilih di masjid sekitaran desa Namorambe.

Pengajaran yang disampaikan Herman, dikemasnya dengan bijaksana. Setelah menyampaikan urutan penanganan jenazah, biasa ia menyelipkan pesan tauhid. Misal, untuk kepercayaan tentang pengobatan asam urat dengan air mandian jenazah, ia mengkaitkan dengan ilmu kesehatan. “Kenapa bisa terjadi asam urat? Itu terjadi akibat kerja ginjal yang melemah dan pola makan yang tidak sehat,” urainya pada jamaah.

Perlahan, metode pengajarannya mulai menyadarkan warga. “Alhamdulillah, sekarang sudah banyak mereka yang sadar tidak melakukan kesyirikan lagi,” ujarnya dengan wajah berbinar.

Mudah-mudahan metode pendekatan dakwah yang dijalankan Herman, dapat menjadi contoh bagi pendakwah lain. Merubah masyarakat, tanpa harus melakukannya dengan frontal ■ pp


printer friendly create pdf of this news item