News

24 Apr

Ade Syahfitriani “Dulu memang maunya sekolah di kota, bukan di pesantren kampung”

By: admin | Asa | Comments: 0

Sejak dalam kandungan, sang ibu telah memasang niat dan menanamkan tekad, bahwa apabila si buah hati yang telah dirindukan bertahun lahir, nantinya akan disekolahkan di pesantren, dan saat dewasa menjadi guru ngaji.

Tiba saatnya si bayi lahir. Bayi yang kelak bernama Ade Syahfitriani itu, lahir di Huta Padang, Asahan, 22 Juni 1997. Fase awal kehidupan mulai dijalani. Seiring pertambahan usia, tahapan lanjutan kehidupan terus ditapaki. Beberapa tahun kemudian, tekad yang belakangan diceritakan langsung oleh ibunya, baru disadari Ade, telah menuntun perjalanan hidupnya.

Gadis yang memiliki hobi membaca dan masak ini, masuk pesantren sejak Tsanawiyah (SMP). Ia ingat, dulu bersekolah di pesantren dengan sangat terpaksa, semata hanya mengikuti keinginan orang tuanya.

Dasar memang sudah ditakdirkan, sekuat apapun Ade berkeinginan sekolah di kota, selalu saja ada jalan yang menggagalkan keinginan itu. Ketika ikut tes masuk, ia tidak lulus. Jadi, mau tidak mau, ia harus masuk pesantren. “Dulu memang maunya sekolah di kota, bukan di pesantren kampung,” ujarnya mengenang.

Perlahan ia berusaha menyesuaikan diri. Ketika di dalam, sekalipun pesantren tempatnya menuntut ilmu tidak mewajibkan santri hafal Qur’an dengan jumlah juz tertentu, namun ia melihat semangat yang tinggi dari teman-temannya untuk menghafal.

Ade pun terpacu untuk ikut menghafal. Alhamdulillah, setamat dari nyantri, ia telah hafal 8 juz. Selain termotivasi oleh teman, ia juga termotivasi oleh sebuah hadist, agar di akhirat kelak ia dapat memasangkan mahkota di kepala kedua orangtuanya.

Selama menyantri, alumni Pesantren Bina Ulama Kisaran itu, pernah meraih banyak prestasi di cabang perlombaan tahfidz, fahmil, serta kutubut turats, baik tingkat kecamatan maupun kabupaten Asahan.

Sehari-hari, manajer program beasiswa khusus penghafal Al-Qur’an (Program Be a Huffaz Ulil Albab) ini, kuliah di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) jurusan Ekonomi Islam. Selain itu ia juga giat berorganisasi, serta mengajar tahfidz sepekan sekali di salah satu sekolah Islam swasta di Medan.

Gadis murah senyum perantauan dari desa Tomuan Holbung, Kecamatan Bandar Pasir Mandoge, Kabupaten Asahan itu, bergabung dengan program beasiswa Ulil Albab sejak pertengahan tahun 2016. Selain agar dapat membantu biaya kuliah, ia mendaftar karena ingin mencari lingkungan yang dapat mendukung keinginannya untuk menjadi lebih baik.

Ia tahu bahwa peserta beasiswa Ulil Albab dibina keislamannya serta hafalan al-Qur’annya. “Disini saya bertambah semangat menghafal. Lingkungannya kondusif untuk terjaga hafalan. Lagi pula disini banyak pengalaman berharga yang gak didapat di tempat lain,” kesan Ade ■ isc


printer friendly create pdf of this news item