News

20 Feb

Sodom, Vesuvius, dan Konspirasi Global

By: admin | Sharing | Comments: 0

Masalah LGBT sudah ribuan tahun lalu dibahas dan “divonis” Al Qur’an. Artinya, bagi ummat Islam persoalan itu tidak lagi masuk area abu-abu. Segalanya sudah terang benderang.

Mengapa itu perlu ditegaskan? Belakangan, ada kecenderungan segelintir atau sekelompok orang, yang coba membelokkan dan menginterpretasi ulang ayat-ayat qath’i (pasti) tentang kasus liwath (homoseksual) pada masa Nabi Luth. Tujuannya, agar mendapatkan pembenaran tentang perilaku keji tersebut.

Ternyata bagi LGBT lover, kisah kaum Sodom dan Gomora yang dihujani batu, dan bumi mereka tinggal dijungkirbalikkan Allah, belum cukup menjadi bukti perilaku mereka sangat dimurkai Allah. Seakan kisah itu hanya dongeng turun-temurun yang tidak akan mungkin terulang pada zaman ini.

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu (terjungkir-balik sehingga) yang di atas ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS. Huud : 82)

Pada tahun 79 M, Gunung Vesuvius di Italia, meletus. Debu letusan menyapu dan menimbun Kota Pompeii. Dampaknya, kehidupan sekitar lokasi yang dijuluki “Kota Maksiat” itu luluh lantak. Baru pada tahun 1748, kota ini ditemukan kembali secara tidak sengaja.

Kejadian itu berlangsung dengan maha dahsyat dan sangat mendadak. Hal itu dapat diketahui dari bukti mayat yang terawetkan. Kelihatan, penduduk Pompeii sama sekali tidak menyadari dan mengetahui, akan terjadi sesuatu yang segera melenyapkan mereka semua.

Peristiwa alam biasakah? Belakangan, dari banyak penggalian, didapat bukti fosil sejarah, aneka prilaku keji semodel LGBT, telah menjadi kebiasaan rutin penduduk. Hubungan sesama jenis menjadi aktifitas yang dianggap lazim. Lokasi pelacuran bertebaran dimana-mana. Wajar bila azab dan siksa dahsyat Allah Swt ditimpakan terhadap kaum laknat ini. Na’uzubillah.

Tentang cara azab itu diturunkan, hampir mirip seperti disitir dalam Qur’an, “Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semuanya mati.” (QS. Yaasin : 29)

Bila pada pemusnahan kaum Sodom dan Gomora, tidak disisakan satu bukti apapun, tapi pada penduduk Pompeii, Allah Swt meninggalkan bukti dalam bentuk mayat diawetkan. Posisinya, persis seperti aktifitas kemaksiatan yang terakhir dikerjakan. Tentu salah satu tujuannya adalah agar manusia generasi berikutnya dapat mengambil pelajaran dari peristiwa itu.

Masalahnya, manusia sering lupa atau tidak mau tahu dengan berbagai tanda-tanda peringatan yang terjadi pada ummat atau kaum terdahulu.

Lihat saja. Dalam beberapa tahun belakangan, setelah Denmark pertama kali melegalkan pernikahan sejenis pada tahun 1989, langkah gila itu telah diikuti 23 negara lain. Mereka betul-betul tidak peduli kekejian LGBT. Padahal, dampak kerusakan yang ditimbulkannya jelas menyentuh banyak aspek.

Dan jangan lupa, Indonesia juga harus bersiap menghadapi serangan massif kampanye LGBT. Ingat, mungkin sekitar 5 tahun lalu, kaum terkutuk ini masih banyak menyembunyikan diri. Namun sekarang, mereka tidak lagi malu-malu untuk mengakui kelainannya.

Sebenarnya, ditargetkannya Indonesia, bukanlah suatu hal yang mengherankan. Posisi sebagai negara mayoritas Islam, tentu sangat strategis untuk makin memuluskan langkah mereka di belahan dunia lainnya. Artinya, ketika Indonesia tidak bersikap keras alias permisif terhadap tingkah laku kaum laknat ini, tentu itu akan menjadi bahan kampanye terbaik untuk semakin memuluskan agenda busuk mereka.

Sarana mereka memunculkan diri sudah sangat beragam, termasuk media elektronik. Langkah atau tindakan mereka, sepertinya sudah tersusun dan terukur rapi. Tidak hanya promosi diri, tapi mereka juga memanfaatkan pihak lain yang sudah teracuni dan dapat dibeli, untuk membantu mempromosikan kelompok mereka.

Tidak sulit untuk menyimpulkan bahwa gerakan itu didukung oleh pihak luar atau asing. Pihak luar ini sering diistilahkan dengan konspirasi global. Tujuannya jelas, merusak tatanan keagamaan dan kehidupan sosial sebuah negara atau bangsa. Sehingga ketika berhasil dilemahkan, akan lebih mudah mengendalikan dan menguasainya.

Jutaan dollar dana digelontorkan untuk melancarkan misi jahat itu. Tidak heran, belakangan ini berbagai even, artikel, ataupun kegiatan yang sifatnya blow up kampanye LGBT, makin mudah dijumpai di banyak kesempatan.

Sementara itu, banyak diantara kita yang tidak menyadari “permainan halus” yang sedang dijalankan para pegiat kaum yang biasa diidentikkan dengan kaum pelangi itu. Strateginya adalah masuk ke berbagai lini kehidupan. Contohnya, sekarang banyak pembawa acara di televise yang berpenampilan kemayu atau banci. Apakah itu bukan disengaja? Patut diduga itu by design.

Sebaiknya kita jangan terlalu polos. Kritislah. Ketika semakin banyak masyarakat memaklumi penampilan para banci itu, sesungguhnya kita sudah masuk perangkap jahat. Ketika masyarakat tersenyum, bahkan terbahak-bahak menertawakan tingkah dan gaya para banci itu, sesungguhnya racun yang mereka suntikkan ke pikiran kita, sudah mulai bekerja.

Target awal mereka telah tercapai, yaitu agar mata dan pikiran masyarakat makin terbiasa dengan keberadaan LGBT. Pada akhirnya, diharapkan kondisi dan keberadaan mereka pun dapat dimaklumi serta diterima khalayak.

Padahal, Islam sangat keras dalam menyikapi masalah satu ini. Sepanjang masih dapat dididik dan dikembalikan pada fitrah dasarnya sebagai pria atau sebagai wanita, insya Allah itu lebih baik. Tetapi ketika prilaku mereka semakin menyalah, ancaman hukumannya sangat keras.

“Siapa menjumpai orang yang melakukan perbuatan homo seperti kelakuan kaum Luth maka bunuhlah pelaku dan objeknya!” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan dishahihkan al Albani).

Demikianlah aturan yang berlaku dalam Islam menyikapi perilaku menyimpang kaum homo. Tentu itu berlaku ketika telah terjadi penyimpangan.

Oleh karena itu, semua kita memiliki porsi tanggung jawab dalam mencegah tumbuh dan berkembangnya kaum LGBT. Kepedulian kita insya Allah akan memulihkan dan menyelamatkan nilai-nilai agama dan kemanusiaan yang makin tercabik oleh prilaku menyimpang itu. Wallaahu A’lam  Aaz


printer friendly create pdf of this news item