News

09 Nov

Tumangger Yang Terabaikan

By: admin | Program - Layanan Dakwah | Comments: 0

Pembinaan Islam yang minim, biasanya cenderung berdampak negatif pada banyak hal. Selain kedangkalan pengetahuan dan pemahaman, khususnya masalah syariat, juga dapat menyebabkan kaburnya batas antara haq dan bathil.

Itulah yang sedang banyak terjadi di kalangan kaum muslimin, khususnya yang berada di pelosok. Keterbatasan terhadap akses media belajar, ditambah minimnya ketersediaan da’i, membuat kualitas keagamaan mereka memprihatinkan.

“Saya baru saja pulang dari tahlilan, peringatan 40 hari meninggalnya salah seorang warga di kampung ini. Cuma, saya tadi agak heran, selesai tahlilan, keluarga itu membuat acara tor-tor. Padahal mereka muslim,” ungkap Putra Berampu, penggerak da’wah di Desa Pegagan Julu, Kecamatan Sumbul, Dairi.

Melihat dari sejarah bermulanya tarian adat tor-tor ini, bila dikaitkan dengan ajaran aqidah Islam, jelas ada pesan ritual yang terkandung dalam tarian itu. Tarian itu dapat digunakan dalam acara ritual yang berhubungan dengan roh.

Bisa juga digunakan sebagai sarana penyampaian batin, baik kepada roh tertentu, maupun kepada orang orang yang dihormati. Jadi, bila tidak berhati-hati, sebenarnya ada hal yang bertentangan dengan syariat Islam. “Yang saya tahu, memang selama ini beberapa warga Dusun Tumangger (termasuk bagian Desa Pegagan Julu), memang melakukan hal itu,” tambah Putra.

Sahabat Dakwah UA mengunjung dusun itu, Agustus 2017 lalu. Warga Tumangger mayoritas muslim. Kebanyakan warga adalah petani. Dusun ini cukup tenang. Jauh dari hingar bingar suara kendaraan bermotor.

“Dusun ini memang dari dulu jarang ada ustadz untuk kasih ceramah bimbing warganya. Mereka terabaikan. Jadi penjelasan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, tak didapat warga. Mereka pun jadinya ngikut yang dulu-dulu sempat mereka dengar dan diajarkan turun temurun dari orangtuanya,” tandas Putra.

Keadaan tersebut, sebenarnya berbahaya bagi kelangsungan jangka panjang Islam, khususnya di sekitar Tumangger. Minimnya pengetahuan agama warga, dapat dimanfaatkan untuk melemahkan aqidah mereka. Sadar ataupun tidak, itulah yang sedang terjadi.

Semoga ini menjadi perhatian lembaga da’wah, khususnya yang yang memiliki perhatian terhadap penanganan da’wah pelosok.

“Kalau nanti ada ustadz, suruhlah ditempatkan di desa ini pak. Agar warga di sini terbimbing, apalagi di dusun ini mayoritas islam,” harap warga serentak ■


printer friendly create pdf of this news item