News

02 Nov

Menjadi Mamak Yang Berjaya Oleh : Kembang Sri Rezeki, ST

By: admin | Sharing | Comments: 0

Mamak atau omak, dalam masyarakat Sumatera khususnya, merupakan panggilan pengganti ibu, mama atau bunda. Pengaruh mereka sangat dinamis dalam masyarakat. Jumlah mereka cukup besar. Bahkan dari data statistik, wanita produktif hingga usia 60 tahun, lebih banyak jumlahnya dari pria. Apa maknanya ?

Maknanya adalah, para perempuan yang berposisi sebagai mamak ini, punya potensi pengaruh yang mumpuni dalam melakukan perubahan. Tidak salah jika dikatakan, sesungguhnya separuh kebaikan di masyarakat disandarkan kepada perempuan, khususnya mamak. Oleh karena itu, agar seorang mamak dapat mengemban tugas mulia ini, perlu disiapkan beberapa hal dalam dirinya, di antaranya:

Pertama, berusaha memperbaiki diri sendiri.
Memperbaiki diri, konteksnya bukan hanya soal fisik, namun juga pemikiran dan kelurusan hati. Seorang mamak yang rajin meng up grade ilmu, akan berbeda dengan mamak yang hanya puas dengan ilmu turunan yang dimilikinya. Mamak yang sehat, bugar dan aktif melakukan hal bermanfaat, akan berbeda dengan mamak yang hanya berdiam diri. Mamak yang tulus dan lurus niat dalam beraktivitas, akan berbeda dengan mamak yang hanya puas menuntaskan tugas, lalu lupa ikhlas. Jadi, tingkat koreksi diri seorang mamak, sangat menentukan keberhasilannya dalam memberi pengaruh kebaikan.

Kedua, menjadi sahabat bagi pasangan.
Pasangan yang dimaksud disini, adalah suami, atau jika mamak adalah single parent, maka orang di sekitar, seperti asisten rumah tangga, keluarga atau anak terbesar, bisa menjadi sahabat dalam melakukan peran pengasuhan di dalam rumah. Di zaman kini, dimana banyak mamak yang bekerja nyaris seharian. Ketidakberadaan di rumah, dapat didelegasikan pada pasangan. Walau tidak sempurna, namun mampu meminimalisir ketiadaan peran. Khusus perannya menjadi sahabat bagi suami, akan besar pengaruhnya pada aktivitas suami dalam menjalankan perannya sebagai ayah.

”Ingatlah, aku telah memberitahu kalian tentang istri-istri kalian yang akan menjadi penduduk surga, yaitu yang penyayang, banyak anak, dan banyak memberikan manfaat kepada suaminya, yang jika ia menyakiti suaminya atau disakiti, akan segera datang hingga berada di pelukan suaminya, kemudian berkata, ”Demi Allah, aku tidak bisa memejamkan mata hingga engkau meridhaiku.” (HR Baihaqi)

Ketiga, jadilah pionir dan teladan kebaikan bagi lingkungan.
Keberadaan mamak-mamak di lingkungan, yang senang berkumpul dan berbincang, dapat menjadi pionir dalam kebaikan di lingkungannya. Dimana berkumpulnya bertujuan baik, dan membincangkan kebaikan. Ada sebuah istilah umum, bahwa untuk menumbuhkan dan menanam kebaikan, sesungguhnya dibutuhkan orang sekampung untuk melakukan. Artinya apa ? Bahwa lingkungan, memberi pengaruh signifikan terhadap tumbuhnya kebaikan.

Baiklah mamak-mamak, mari bersama-sama menyadari potensi besar yang ada. Mari ambil peran dalam memperbaiki carut marut permasalahan di masyarakat. Insya Allah kita dapat mewujudkan perubahan yang lebih baik. Wallahu alam ■

printer friendly create pdf of this news item