Suaranya bagus. Pengucapan huruf hijaiyahnya cukup jelas. Bisa juga melagukan Al Qur’an. Hampir semua surat-surat pendek juz 30 sudah dihafal, oleh anak bernama lengkap Leli Setiawati ini.

Semester lalu, Leli meraih juara III di kelasnya. Secara khusus, anak kelas XII MAN Karo ini menyukai pelajaran matematika. Sering, saat beraktifitas di luaran, ia menunjukkan kesukaannya itu.

Orangtuanya bercerita, dulu, saat belum mengenal meteran, beberapa kali ia mencoba mengukur luas ladangnya berdasarkan jumlah langkah kakinya. Perkiraannya, satu langkah adalah satu meter. Begitu yang pernah disampaikan guru matematikanya di depan kelas.

Diingatnya betul-betul apa yang disampaikan gurunya. Supaya tak lupa, langsung dipraktekkannya. Tanpa alas kaki, mulailah Leli berjalan di garis panjang dan lebar ladangnya. Biasanya, esoknya, kepada teman-temannya akan ia ceritakan berapa angka luasan yang didapatnya. Begitulah kesenangannya.

Sehari-hari, setiap pulang sekolah, biasanya ia langsung bersiap membantu orangtuanya berladang. Bersama keluarganya, mereka menanam buncis, cabe rawit dan sawi botol.

Ibunya turunan Jawa asal Langkat. Sejak menikah, suami membawanya merantau ke Karo. Tujuannya memperbaiki nasib. Kini, mereka tinggal di tinggal di Desa Barus Jahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Ladang yang mereka pakai, statusnya milik orang lain. Mereka hanya dibenarkan memakai. Kapanpun pemiliknya ingin menggunakan, mereka harus siap serahkan

Padahal, berladang bukanlah profesi yang menjanjikan. Apalagi bagi petani dengan lahan terbatas. Seringnya, petani hanya mendapatkan hasil jual yang pas-pasan. Tidak jarang tekor, alias rugi.

Bila melihat harga jual komoditi, sering petani berada di pihak yang dirugikan. Harga sering tidak stabil. Kebanyakan diatur tengkulak atau pedagang besar. Termasuk yang ditanam orangtua Leli.

Buncis yang ditanam, harganya tidak seberapa. Masa tanamnya 2 bulan. Rata-rata, setiap panen hasilnya 50 kg. Dijual seharga dua ribu rupiah per kilo. Jadi, dalam masa 2 bulan menanam buncis, keluarga ini “cuma” mendapat 100 ribu rupiah, atau 50 ribu rupiah per bulan!

Begitu juga dengan sawi botol. Memang waktu menanamnya lebih singkat. Hanya 30 hari. Namun, harga penjualannya kurang lebih sama dengan buncis.

Guna menambah penghasilan, ayah Leli juga meng-angon lembu. Bukan milik sendiri. Hanya titipan. Ada lima jantan dan dua betina. Perjanjiannya, saat dijual, hasilnya dibagi dua dengan pemilik.

Setidaknya, berbagai upaya yang dilakukannya, dapat menjaga anak-anaknya terus lanjut bersekolah. Apalagi, selain masih memiliki 3 adik, ada juga seorang kakak Leli yang sedang kuliah di Medan. Jelas, beban orangtuanya semakin terasa berat.

Saat ini, Leli adalah salah satu penerima beasiwa Kibar Bangsa Ulil Albab. Masih banyak Leli-Leli lain yang memerlukan perhatian kita semua. Agar pendidikan mereka tidak berhenti di tengah jalan ■

Yuk mari #menebarrahmah dan #mandirikandhuafa bersama Ulil Albab

Kunjungi keseharian kami di :
www.ulilalbab.org
fb | ig | t : @lazulilalbab

Rekening Donasi :
Mandiri : 106-000-671617-2
BNI : 149347965
BSM : 1210015089
An. Yayasan Ulil Albab

Office : Jl. Brigjend Katamso No.11 Medan Maimun
Donasi? WA 0823 6883 9938

Share this: