Macam-macam cara orang belajar. Ada yang memilih sekolah tinggi-tinggi. Tak sedikit juga yang menempuh cara ‘matang di jalan’.

Beruntungnya anak muda ini memilih keduanya. Ia minat sekolah sekaligus hobi di lapangan.

Yuan Alfinsyah adalah salah satu wisudawan S2 terbaik Universitas Gajah Mada tahun 2013. Kecintaannya pada fisika membuatnya tertarik belajar instrumen dan gelombang. Yuan selalu bereksperimen untuk dirinya sendiri. Benarkah kalau aku pantulkan gelombang kebaikan, akan kembali kebaikan lain padaku? Berputar-putar pertanyaan itu dikepalanya.

Eksperimen pertama dilakukannya saat menjadi relawan qurban. Sebuah pekerjaan yang tak pernah ada dalam kamus hidupnya. Relawan qurban adalah orang yang mengawal hewan qurban sampai di lokasi hingga selesai penyembelihan. Selanjutnya pembagian kepada masyarakat dan membuat laporannya untuk orang yang berqurban.

Yuan ditempatkan di sebuah kampung di Kabupaten Pakpak Bharat, Sumatera Utara. Lokasinya jauh dari ibukota kabupaten. Jam 2 pagi bus mini yang mengantarkannya sampai di lokasi terakhir. Hanya itu jalan yang mampu dimasuki mobil. Selanjutnya, pengendara motor ‘trail’ sudah menantinya. Jalan yang dilalui sempit, berliku dan terjal. Malam pula. Kurang kerjaan.

Sampai di lokasi menjelang subuh. Habis sudah. Tak ada lagi waktu istirahat. Persiapan qurban sudah didepan mata. Celakanya, warga membisikkan mereka tidak punya imam dan khatib sholat ‘id.

Waktu yang singkat digunakannya mencari bahan khutbah. Untuk jadi imam bolehlah, dia sudah biasa. Khutbah ini? Pikirannya mulai galau.

Benar saja. Bergetar kakinya di belakang mimbar. Terpatah-patah ia mengucapkan kalimat pembuka. Sorotan mata jama’ah seolah-olah pandangan sinis Fir’aun pada nabi Musa. Untung kakinya tertutup mimbar. Segera Yuan kuasai gugupnya. Dalam beberapa menit Yuan bisa menguasai keadaan.

Selesai babak pertama. Saatnya Yuan berbaur ke masyarakat. Ratusan orang sudah menanti di lapangan mesjid. Penjagalan harus segera dilakukan. Debaran jantungnya semakin kencang. Cukupkah hewan yang tak seberapa banyak ini dibagikan ke banyak orang? Kalau tak cukup pasti ia yang akan jadi bulan-bulanan masyarakat.

Syukurnya panitia bijak berbagi. Mulai dari kepala hingga kaki semuanya habis tak bersisa. Selesai.

* * *
Kini Yuan menjadi dosen fisika di USU. Juga mendapat amanah sebagai kepala sekolah SMP IT Iqro’ di Medan Polonia.

Pengalamannya menjadi relawan qurban Ulil Albab membuatnya ‘matang di jalan’. Ia tak canggung berdiri didepan mahasiswa. Pun jiwanya semakin lentur menghadapi berbagai keluhan di sekolah. Baik dari guru, siswa maupun orangtua.

Gelombang kebaikan telah bekerja untuknya.

Oleh : Danil Junaidy Daulay

Share this:

WhatsApp kami whatsapp