Masa kecilnya banyak dihabiskan di jalanan. Sejak kelas 4 SD, guna membantu ekonomi keluarga, setiap hari sepulang sekolah hingga jam 11 malam, ia bekerja sebagai pembersih angkot.

Selain itu, ia juga sempat bekerja sebagai pengamen, tukang semir sepatu, serta jual minyak wangi dan buku, dari satu masjid ke masjid lain. Kehidupan yang miskin dan serba kekurangan, mengajarkan arti perjuangan bagi pria kelahiran Medan, 3 Maret 1990, yang akrab disapa Epo itu.

Ia mengawali usaha di peternakan pada tahun 2010. Sebelum mulai beternak, ia bekerja sebagai pengarit rumput di sebuah peternakan. Namun pekerjaan itu hanya dijalani 5 bulan. Usaha itu tutup.

Setelah beberapa bulan tidak bekerja, berbekal sedikit pengetahuan yang didapat, ia memberanikan diri memulai sendiri usaha aqiqah. Merek usahanya, Sholeh Aqiqah.

“Dulu mulai tanpa modal, saya beranikan diri pinjam kambing dengan sistem laku baru bayar. Untuk ngiklan pun buat brosurnya saya ngutang, tapi alhamdulillah malah dikasih gratis. Alat penyembelih kambing juga saya minjam-minjam,” ungkap suami dari Lia Fitriana itu, sambil mengingat kisah lalunya.

Perlahan, pesanan aqiqah mulai berdatangan. Usahanya mulai maju, hingga mampu membuat kandang. Kecil, untuk 5 ekor. “Bisa punya kandang dan bantu ibu, buat saya mantap seriusin usaha,” akunya.

Cobaan datang. Pertengahan 2011, ibunya divonis derita kanker dinding lambung. Epo pun harus curahkan konsentrasinya. Tabungan dan modal usaha, habis guna perobatan. Usaha tidak lagi jadi prioritas.

Tidak hanya itu, bahkan, ia harus berhutang kesana-sini. ”Saat itu buat saya yang penting Ibu sehat agar dapat membahagiakannya,” kenangnya. Namun, takdir Allah, tidak lama sang ibu meninggal.

Pria yang telah yatim sejak usia 1 tahun itu, sangat kehilangan. Karena, selain nenek, yang telah duluan meninggal, ibu adalah sosok yang menjadi penyemangatnya dalam banyak hal. Semangatnya hilang.

Syukurnya, perlahan ia coba kuatkan diri. Majelis taklim kembali rutin dihadiri. Nasehat ustadz, menggugah hatinya. Pada akhir 2011, Sholeh Aqiqah yang mati suri, kembali ditekuni. “Saya mencoba kembali membangun usaha tanpa ada modal sama sekali. Usaha ini akan saya dedikasikan untuk balas jasa orang tua, dengan banyak berbagi,” tekad mahasiswa peternakan semester 6 di Univ. Panca Budi ini.

Semangatnya bangkit. Kapasitas kandang ditambahnya hingga 50 ekor. Tapi, di tahun 2013 ujian kembali menerpa. Ia ditipu dan kehilangan satu kandang kambing. “Saat itu hanya pasrah pada Allah SWT,” akunya.

Meski terseok ia tetap menjalankan usahanya. Hingga akhirnya Sholeh Aqiqah mendapat banyak kepercayaan pengadaan hewan qurban. Hutangnya pun dapat lunas terbayar.

Kini omset usahanya telah mencapai puluhan juta per bulan. Beberapa pekerjanya juga, ia bantu untuk buka usaha sejenis. “Rezeki sudah Allah SWT atur, gak bakal ketukar” yakinnya.

Selain mengurus usaha, ayah dari satu orang putri yang menjabat Ketua Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI) Sumut itu, juga aktif menjadi pembicara dalam berbagai even peternakan ■

Share this: