Karakter aktifis telah lama melekat di dirinya. Berbagai persoalan ummat selalu menjadi pikirannya. Tidak heran, sarjana alumni Teknik Industri USU ini, selalu mengisi waktunya dengan aktif dalam berbagai kegiatan keorganisasian dan pembinaan ummat.

Banyak jabatan pernah diembannya. Mulai dari Ketua Remaja Masjid di Binjai, Ketua Umum Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (UKMI) Ad Dakwah USU, dan lainnya.

Di Ulil Albab sendiri, Emil bukan sosok asing. Sejarah berdirinya UA tidak dapat dilepaskan dari peran besar pria kalem ini. Peran sebagai inisiator mengumpulkan alumni aktifis masjid kampus, merumuskan pendirian, serta beberapa tahun menjabat pengurus harian, menjadikan dirinya sangat dekat dengan UA.

Program beasiswa yang telah memberi manfaat bagi ribuan siswa dan mahasiswa, juga merupakan sumbangan buah pikir dan kerja kerasnya. Bahkan, di awal berjalan, pembinaan peserta beasiswa ditanganinya langsung. Ringan saja baginya rutin menempuh jarak Binjai-Medan, demi membina dan mengarahkan peserta agar meningkat kualitas akademik dan potensi diri mereka.

Keikutsertaannya sebagai peserta qurban UA, merupakan wujud dukungannya kepada lembaga yang ikut dibidaninya. Dan, Emil pernah menjadi relawan qurban pada PTQ UA 18 tahun silam.

Pria kelahiran 25 Maret 1974 ini, mengawal proses penyembelihan dan pendistribusian qurban. “Saat itu, saya juga menjadi khatib disana,” kenangnya. “Kalo saya tidak bersedia jadi khatib dan imam, tidak ada shalat id disitu. Kalo tidak salah nama desanya Sigarang-Garang, di Karo,” ujarnya sambil mengingat-ingat.

Pria yang setelah tamat S1 melanjutkan pendidikan bahasa Inggris di Jakarta itu, saat ini menetap di Kota Binjai. Sejak beberapa tahun lalu, bersama sang istri, ia membuka Bimbel Galaxy. Lokasinya di Kebun Lada, Binjai. “Alhamdulillah sekarang siswanya sudah 200-an orang,” ungkapnya.

Selain mengelola bimbel, sesekali ia mengisi ceramah dan mengisi khutbah jumat. Agar tetap dapat berkontribusi terhadap persoalan ummat, khususnya dalam membantu pengenalan serta perbaikan bacaan Quran, bapak 2 putra kembar, Fauzan dan Fauzi itu, di bimbelnya, juga membuka kursus privat baca Quran.

Tentang fenomena masih minimnya qurban di pelosok, Emil ikut prihatin. “Di kota, jumlah pequrban kian bertambah, penerima daging qurban pun tumpang tindih hingga satu warga bisa mendapat lebih dari dua kantong daging qurban. Kondisi itu harus dirubah,” tandasnya.

“Sudah sangat bagus PTQ Ulil Albab ini selalu diarahkan ke daerah pelosok dan terisolir. InsyaAllah manfaatnya sangat terasa bagi saudara disana,” tutupnya ■ wyu

Share this: