“Becak, dik!” Bapak paruh baya itu menawarkan jasa. “Saya belum dapat sewa dari pagi ni,” seru bapak itu dengan suara pelan. Raut wajahnya menampakkan kelelahan.

Relawan yang ditawari jasa beca, beranikan diri bertanya. “Bapak sudah makan siang?” “Belum nak, belum buka dasar,” jawab di bapak sembari menunduk.

“Mata saya langsung berkaca-kaca,” kenang Siti Alus Ningsih, sang relawan yang menemui si bapak beca. Siang itu Siti bukan sedang mencari beca. Bersama relawan lain, ia sedang dalam kegiatan berbagi nasi bungkus siap santap.

Program ini dilaksanakan setiap Ahad pekan ke 4 oleh mahasiswa/i peserta program beasiswa Sahabat Pendidikan UA – YBM PLN UIKSBU. Aktifitas ini diberi nama ‘Dapoer Oemoem 10K’, disingkat DO 10K.

Para mahasiswa/i itu berkomitmen menyisihkan uang saku seikhlasnya, untuk kemudian dibelikan nasi bungkus seharga 10 ribu rupiah. Biasanya dari dana yang berhasil dikumpulkan, cukup untuk membeli puluhan nasi bungkus.

Dalam beberapa kali pelaksanaan, sesuai dengan kriteria penerima yang ditetapkan pelaksana, sasaran pembagian adalah orang-orang yang ditemui di pinggir jalan, serta kondisi aktifitas serta tampak fisiknya memang layak dibantu. Bisa jadi itu pemulung, penarik beca, petugas pembersih sampah, pengemis, dan petugas parkir.

Saat pelaksanaan, relawan menyasar beberapa lokasi yang berbeda. Ada yang berjalan kaki, naik angkot, dan bersepeda motor. Guna memaksimalkan sasaran penyaluran, biasanya lokasi relawan ditugaskan, disesuaikan dengan arah tempat tinggal masing-masing. Asumsinya, mereka lebih mengenal daerah sekitar.

Puluhan cerita dan pengalaman menarik telah dirasakan relawan. Melalui DO 10K, relawan belajar tentang kesusahan fakir miskin. Harapannya, dari mereka ke depannya, akan muncul ide-ide solutif terhadap persoalan dhuafa.

“Terharu rasanya lihat mereka bahagia menerima bungkusan nasi. Ada yang sampai menjunjung nasi di kepalanya sambil berterima kasih mendoakan kami,” kesan Dawiya, salah satu relawan. “Saya pernah salurkan untuk nenek pikun yang terlunta-lunta, ada juga pemulung tua,” tambahnya.

Ternyata, sebungkus nasi yang jadi hal biasa bagi sebagian kita, namun bagi dhuafa yang tidak memiliki uang saat jam makan, itu menjadi sesuatu yang mewah. Insya Allah menjadi pelajaran berharga bagi kita ■

Share this: