Wanita ini dikenal dan dipanggil dengan nama Umi Firdaus. Sebenarnya, Firdaus adalah nama anak laki-laki tertuanya. Nama asli beliau, Nur Endah Nurbayati.

Janda berusia 59 tahun ini, sehari-harinya mengajar ngaji di sekitaran Sidikalang, ibukota Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Hampir seluruh supir angkot di Sidikalang mengenalnya. Pasalnya, kemana pun mengajar ia selalu menggunakan angkot.

Mengajar, adalah aktifitas rutinnya. Jadwalnya, pagi hari mengajar di satu SDIT di Sidikalang. Pulang mengajar, balik ke rumah untuk beristirahat, sembari sedikit membereskan pekerjaan rumah. Sekitar jam 2.30 siang, mulailah Umi mengajar iqro’ dan Qur’an dari rumah ke rumah. Sehari bisa tiga rumah. Biasa, tiba kembali di rumah jam 9 malam. Bahkan, sering hingga jam 10 malam.

Begitulah rutinitas hariannya. Seperti tak ada lelah. Energinya serasa terus diperbaharui. “Ketergantungan saya hanya sama Allah, bukan makhluk.” Demikian ia memulai percakapan.

“Tak pernah sekalipun saya meminta upah mengajar. Juga tak pernah saya tetapkan tarif. Ada murid yang sudah setahun belajar tapi tak pernah bayar. Tak pernah saya tagih. Ketika ada keinginan menagih sebab kesulitan hidup sangat menghimpit, seketika itu pula saya langsung ingat Allah. Minta ampun sama Allah sebab sudah mencoba lepas dari ketergantungan pada-Nya,” sambungnya soal prinsip hidupnya.

Alhamdulillah, sekalipun memiliki prinsip seperti itu, sejauh ini semua keperluan Umi Firdaus dan keluarga tercukupi. Termasuk sebuah rumah sederhana, yang merupakan bantuan banyak orang.

Ceritanya, dua tahun lalu saat suaminya baru meninggal, ia belum memiliki rumah. Kebetulan ada seorang pengusaha yang dikenalnya, memiliki sebidang tanah kosong.

Pengusaha itu bersimpati dan berinisiatif, menggerakkan warga untuk membantu pembelian material bangunan. Selanjutnya, warga bergotong royong membangunkan sebuah rumah sederhana. Sekarang, rumah itu telah didiami Umi dan keluarga.

Karena posisinya sebagai guru mengaji keliling, di sekeliling Sidikalang banyak anak muridnya. Sering juga murid-murid itu dibawanya menghadiri undangan jamuan anak yatim dan dhuafa. Terkadang, ongkos transportasi mereka, ditanggung oleh wanita asal Ciamis ini.

Belakangan, bila menghadiri acara seperti itu, ia membawa salah seorang anaknya. Uang saku yang diterima sang anak, dipakainya untuk biaya transportasi rombongan.

Syukurnya, ada juga pengundang yang peduli, selain kepada anak-anak, juga menitipkan sejumlah uang bagi Umi, termasuk pengganti biaya transport.

Wanita ramah ini bercerita, keikhlasannya dalam mengajar serta ketergantungannya pada Allah, sering dibalas Allah dalam bentuk kemudahan ataupun kebaikan dari orang lain. Bermacam bentuknya.

Misalnya, dengan niat sedekah, ada pedagang yang sengaja lebihkan kembalian uang belanjanya. Ada juga, teman yang memboncengkannya ke suatu tempat, sehingga ia tidak perlu lagi mengeluarkan ongkos.

Kisah pernikahan anak perempuan sulungnya, bagi Umi, juga merupakan bentuk lain pertolongan Allah. Kini, anak gadisnya, telah berumah tangga dengan ustadz pengajar di pesantren, tempat sang anak pernah menuntut ilmu. Umi merasa beruntung, anaknya berjodoh dengan orang baik.

Hingga kini, sudah hampir 10 tahun Umi Firdaus menjadi bagian dari Korps Da’i Pelosok (KDP) Ulil Albab. Di setiap kunjungan supervisi Sahabat Dakwah Ulil Albab ke rumahnya, ia sangat senang dan bersemangat. Ia merasa bertemu sahabat seperjuangan ■

Share this: