Di saat siswa di perkotaan, memiliki sedikit kemudahan dalam menjalani pembelajaran daring, tidak demikian halnya dengan anak-anak di Desa Hutasalem, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir.

Menurut penuturan Hendri Hasibuan, da’i Korps Da’i Pelosok (KDP) Ulil Albab, yang ikut membantu membimbing anak-anak itu, selain sinyal yang tidak mendukung, kondisi keterbatasan ekonomi keluarga, juga membuat banyak anak tidak mampu membeli atau memiliki gawai (smartphone).

Apalagi, mayoritas orang tua murid bekerja di ladang/kebun milik orang lain. Rata-rata mereka hanya mendapat upah 30-60 ribu rupiah per hari.

“Anak-anak yang tidak memiliki gawai, menyambangi rumah temannya yang memiliki gawai. Sementara yang memiliki gawai harus bekerja membantu di ladang/kebun agar bisa beli paket internet untuk belajar,” terang Hendri, yang sudah bertahun-tahun membina kaum muslimin setempat.

Dengan kondisi seperti itu, pastinya siswa akan ketinggalan pelajaran. Guna mensiasatinya, pihak sekolah dan guru pun berinisiatif melakukan pembelajaran tatap muka. Dua kali dalam sepekan. Satu hari dimanfaatkan untuk belajar, dan satu hari untuk penyerahan tugas.

Terkait pembelajaran daring, karena tuntutan kurikulum, oleh guru, siswa sering diminta untuk mem-print atau mem-fotocopy beberapa tugas. Karena di pelosok, untuk mendapati tempat print atau fotocopy, biasanya siswa harus melakukan perjalanan kurang lebih 45 menit.

Repotnya, bagi orangtua siswa yang tidak memiliki kendaraan, terpaksa menitipkan tugas anak ke pengendara sepeda motor yang lewat. Biasa, ongkosnya 10-20 ribu. Mirisnya, tugas yang diprint terkadang hanya berbiaya 3-5 ribu. Artinya ongkos jalan lebih besar!

“Saya kasihan sama orangtua anak-anak. Sebenarnya saya punya laptop, cuma gak punya printer. Jadi gak bisa bantu ngeprint tugas anak-anak,” tukas Hendri prihatin ■ Rizky

Share this: