Ia salah satu da’i pedalaman Ulil Albab. Otomatis tergabung dalam Korps Da’i Pelosok (KDP). Namanya Sabaruddin. Alumni pesantren. Tamat pesantren, waktunya diisi dengan mengajar di madrasah, serta menjadi khatib Jum’at di masjid sekitaran Kota Tanjung Balai, Sumatera Utara.

Tahun 2011 sejarah kehidupannya di Karo bermula. Saat itu, ia berniat mengunjungi temannya di Desa Sukandebi. Tidak ada dalam rencana dan pikirannya, bahwa perjalanan itu menjadi awal dirinya menetap dan berdakwah di Karo.

Selesai bertemu teman, ia diajak berkeliling. Takdir Allah, sampailah Sabaruddin ke sebuah masjid di Desa Tiga Jumpa, Kecamatan Barus Jahe, Karo. Masjid dalam kondisi terkunci.

Menurut penuturan warga, sudah setahun tidak ada yang shalat disitu. Tidak menunggu lama, bersama warga, pintu masjid didobrak. Kondisi dalamnya menyedihkan. Tidak terurus, berdebu, dan sarang laba-laba bergelantungan di plafon dalam.

Jiwa dakwah Sabaruddin terpanggil. Ia memutuskan untuk tinggal disitu beberapa hari. Hatinya berkata, kalau ada mesjid pasti ada warga muslimnya.

Dua hari menginap, karena hanya memiliki duit pas-pasan, ia lewatkan hari tanpa makan. Hanya air putih untuk mengusir rasa lapar. Tidur pun hanya berselimutkan sajadah.

Masuk hari ketiga, kebetulan hari Jum’at adalah jadwal perwiritan warga. Sabaruddin diundang hadir. Entah kenapa, tiba-tiba ia disodorkan mic untuk berceramah.

Alhamdulillah, walalupun dalam kondisi lapar, namun karena sudah terbiasa berdiri di mimbar, ia lancar menyampaikan tausiah. Di acara itu, barulah warga tahu kemampuan Sabaruddin dalam ilmu ke-Islaman.

Sejak itu, warga hormat kepadanya. Jangankan mendapat sajian makanan, malah warga memintanya bersedia tinggal di desa mereka. Agar ada yang mengajari anak-anak mengaji, ujar warga. Ia bersedia.

Setahun berlalu. Atas inisiatif warga, pemuda ramah ini dijodohkan dengan wanita setempat. Hatinya pun semakin terikat di desa itu. Apalagi, sebuah rumah dibangunkan untuknya, di pekarangan masjid.

Kini, ia rutin melakukan pembinaan warga. Kecuali di Jum’at dan Ahad, 50-an anak dari berbagai tingkatan sekolah datang ke masjid setiap hari, guna belajar iqro’ dan Qur’an. Jadwal mereka antara pukul 14.30 hingga 17.
Sementara Jum’at, adalah jadwal perwiritan ibu-ibu. Kaum bapak belajar mengaji setiap hari, dari maghrib hingga isya. Sesekali, warga memintanya mengajarkan praktek bilal jenazah.

Aneka tantangan dakwah yang biasa dirasakan minoritas muslim, sudah pernah dialaminya. Pernah, warga setempat marah dan melempari atap masjid. Hanya gara-gara tidurnya terganggu saat azan subuh. Warga berdatangan dan menyatakan ketidaksukaan. Tidak cukup disitu, jalan akses ke masjid ditutup.

Warga muslim yang mendukung azan memakai pengeras suara, tidak tinggal diam. Hampir terjadi pertumpahan darah, antara warga yang pro dan kontra. Beruntung, Sabaruddin dengan sabar melerai kedua pihak. Akhirnya diambil jalan kompromi, khusus subuh, azan tidak menggunakan pengeras suara.

Bersyukur, setelah hampir 10 tahun, berkat dukungan aparat desa dan kecamatan, serta adanya kesadaran warga, suara azan saat shalat lima waktu, sudah tidak lagi jadi masalah.

Sudah sekitar 8 tahun, Ulil Albab mendampingi dan mendukung dakwah Sabaruddin. Setiap bulan tim Sahabat Dakwah Ulil Albab menjenguknya, sambil menghantar insentif dana operasional dakwah. Semoga Sabaruddin istiqamah mendampingi pembinaan kaum muslimin Barus Jahe dan sekitarnya ■

Share this: